Rabu, 11 Juli 2012

LOGAM NON FERRO


BAB V

LOGAM NONFERO
  
5. 1. Aluminium

 Karakteristik Aluminium

Aluminium merupakan logam yang paling banyak digunakan setelah baja.
Karekteristik utamanya adalah ringan (berat jenis = 2,7 g/cm3), memiliki konduktivitas
panas dan listrik yang tinggi, memiliki ketahanan korosi yang baik dalam atmosfer
biasa, serta memiliki keuletan yang cukup tinggi. Aluminium jauh lebih ringan jika
dibandingkan dengan baja (berat jenis = 7,8 g/cm3). Salah satu kelemahan utama
aluminium adalah titik leburnya yang relatif rendah, hanya 660 °C. Titik lebur baja jauh
lebih tinggi, yaitu sekitar 1.500 °C.

Dalam dunia industri otomotif, sebagai material logam, penggunaan aluminium
kini menempati urutan kedua setelah besi dan baja, baik secara pengecoran (cast
product) ataupun penempaan (wrought product). Latar belakang kecenderungan (tren)
ini adalah karena aluminium merupakan logam non-fero yang ringan, serta memiliki
sifat mekanis yang baik dan mudah dibentuk.

Lebih dari 80% produk aluminium pada industri manufaktur dihasilkan dengan
metode pengecoran. Hal ini dikarenakan aluminium dapat dengan mudah
dikombinasikan dengan unsur lain (alloying) untuk mengatur karekteristik, seperti sifat
mekanis, sifat mampu cor, sifat mampu mesin (machinability), surface finish, ketahanan
korosi, konduktivitas panas, dan listrik, sifat mampu las (weldability), serta ketahanan
terhadap hot tear (hot tear resistance). Kualitas dari produk hasil pengecoran tersebut
masih dapat ditingkatkan dengan metode modifikasi, penghalusan butir, dan perlakuan
panas.

 Proses Pembuatan Aluminium

Tahapan proses pembuatan aluminium, mulai dari bijih menjadi aluminium
batangan dapat dilihat pada Gambar 5.1. Bijih aluminium dikenal dengan nama bauksit
yang mengisi sekitar 8% dari kerak bumi. Bauksit merupakan oksida dari aluminium
dan terdapat dalam dua bentuk, yaitu

1. Carstic Bauxite, yang sebagian besar terdiri atas alumina monohidrat
(Al2O3.H2O), dan

2. Lateritic Bauxite, yang sebagian besar terdiri atas alumina trihidrat
(Al2O3.3H2O).

Kandungan bauksit adalah 20-50% alumina (Al2O3), 2-28% besi, 12-30% air dan
1-8% asam silikat. Warna bauksit bisa merah, putih, kuning, (tergantung impurities
yang dikandung). Tempat temuan utama bauksit adalah di Eropa (Prancis, Italia, Rusia,
Hungaria, negara-negara Balkan), tetapi di Asia, Australia, Afrika, dan Amerika juga
terdapat banyak sumber bauksit. Di Indonesia, deposit bauksit banyak ditemukan di
Pulau Bintan, Bangka, dan Belitung, Sumatra.

a. Proses Bayer
Bauksit yang telah dimurnikan sehingga kandungan aluminanya naik menjadi
sekitar 40-55%, kemudian diolah untuk menjadi alumina murni melalui proses Bayer
(lihat gambar 5.2). Secara skematis, tahapan proses ini dapat dilihat pada gambar
5.2. Tahap pertama adalah tahap ekstraksi di mana bauksit dihancurkan dan
dimasukkan ke dalam autoklaf dan dilarutkan dengan NaOH menjadi natrium
aluminat. Reaksi yang terjadi pada tekanan tinggi dan suhu 110-270°C sesuai
dengan persamaan berikut:




 Al(OH)3 + Na+ + OH- .. Al(OH)4-
+ Na+ (5.1)



Pada tahap ini, bauksit yang tidak terlarut akan mengendap sebagai residu. Selain
itu, silikon yang dikandung bauksit akan mengendap sebagai Na-Al-silikat, serta oksida
besi dan titanium akan mengendap sebagai padatan. Endapan-endapan ini harus


dipisahkan dari larutan natrium aluminat melalui proses pengendapan (settling),
kemudian, larutan disaring dan dipindahkan ke tangki pengendapan. Lumpur endapan
dicuci untuk memperoleh kembali NaOH dan kemudian didaur ulang ke awal proses.
Tahap kedua adalah proses pengendapan, di mana alumina hidrat diendapkan dari
larutan natrium aluminat melalui reaksi sesuai dengan persamaan berikut.

 Al(OH)4- + Na+ .. Al(OH)3 + Na+ + OH- (5.2)

Pada dasarnya, reaksi ini adalah kebalikan dari reaksi pada tahap pertama, di mana
alumina hidrat diendapkan secara terkontrol melalui proses pembenihan (seeding atau
selective nucleation). Hasil dari tahap ini berupa kristal alumina hidrat yang ukuran
kristalnya kemudian diseleksi dan dimasukkan ke dalam dapur kalsinasi (rotary atau
fluidised bed). Kristal berukuran terlalu kecil untuk di daur ulang ke awal proses.
Tahap ketiga adalah proses kalsinasi, di mana molekul air dari alumina hidrat
diuapkan melalui proses kalsinasi, sesuai dengan persamaan berikut.
Al(OH)3 .. Al2O3 + 3H2O (5.3)
Hasil akhir dari proses Bayer ini adalah alumina murni, yang kemudian dikirim ke
proses Hall-Heroult untuk diolah menjadi aluminium.

b. Proses Hall-Heroult
 Pada prinsipnya, proses Hall-Heroult mengubah alumina menjadi aluminium
murni melalui proses elektrolisis, yang secara skematis digambarkan pada Gambar 5.3.
Alumina dilarutkan dalam elektrolit lelehan kriolit (Na3AlF6) dan dimasukkan ke dalam
tangki elektrolisis (biasa disebut "pot"), di mana terbuat dari baja yang dilapis dengan
grafit. Listrik bertegangan rendah (4-5 V), tetapi dengan arus tinggi (50.000-280.000 A)
dialirkan ke dalam pot melalui anoda karbon (positif), yang terbuat dari batu bara, dan
katoda karbon (negatif), yang berupa lapisan grafit pada pot baja. Reaksi yang terjadi
adalah proses reduksi aluminium di dalam larutan elektrolit menjadi aluminium murni
yang mengendap di katoda, sesuai dengan persamaan berikut.
 2Al2O3 + 3C .. 4Al + 3CO2 (5.4)
Aluminium yang diendapkan di bagian bawah pot dihisap (shiponed-off) secara
berkala dan dibawa ke dapur (holding furnace) untuk kemudian dicor ke dalam cetakan.
Biasanya sebuah pabrik aluminium (disebut aluminium smelter) memiliki 300 buah pot
yang dapat memproduksi 125.000 ton aluminium setiap tahun (Gambar 5.4). Proses ini
memerlukan energi listrik yang sangat besar, yaitu sekitar 15,7 kWh per kilogram
aluminium. Oleh karena itu, lokasi pabrik biasanya berdekatan dengan pembangkit
listrik. PT Inalum merupakan satu-satunya aluminium smelter primer di Indonesia, yang
berlokasi di Asahan, Sumatra Utara, berdampingan dengan PLTA Sigura-gura sebagai
pemasok listriknya.
Berikut ini adalah dua jenis aluminium yang dapat dihasilkan melalui proses
tersebut:
1. Commercial purity aluminium: 99,0 - 99,8% Al
2. Super purity aluminium: 99,99% Al

Sistem Penamaan Aluminium Paduan
Berdasarkan standar Aluminium Association (AA), paduan aluminium
diklasifikasikan menjadi dua kelas utama, yaitu aluminium tuang (cast aluminium) dan
aluminium pengerjaan (wrought aluminium). Penamaan kedua kelas aluminium tersebut
tergantung pada unsur paduan utama yang dikandungnya.
sistem penamaan untuk paduan aluminium tuang menggunakan sistem registrasi
dengan tiga angka, diurutkan berdasarkan unsur paduannya, seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 5.1. Tidak terdapat sistem penamaan paduan aluminium pada seri 6XX dan
9XX. Angka pertama menunjukkan kelompok paduan. Angka kedua dan ketiga
menunjukkan jenis spesifikasi komposisi aluminium paduan tersebut. Sering kali, angka
keempat yang menunjukkan bentuk produk diberikan, 0 untuk spesifikasi coran, 1 untuk
spesifikasi batangan, dan 2 untuk spesifikasi batangan yang lebih sempit. Sebagai
contoh, XXX.0, mewakili batasan komposisi kimia dari paduan hasil proses
pengecoran, sedangkan untuk XXX.1 dan XXX.2 mewakili batasan komposisi kimia
dari batangan.
Sistem penamaan pada paduan aluminium hasil pengerjaan dilakukan dengan
registrasi empat angka, dengan angka pertama menunjukkan unsur paduan utama pada
paduan aluminium tersebut, seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.1. Pada seri 1XXX,
dua angka terakhir menunjukkan jumlah kadar minimum aluminium pada paduan dalam
99,00%. Sementara, pada seri 2XXX hingga 8XXX, dua angka terakhir menunjukkan
kandungan unsur paduan utama
 aplikasi Paduan Aluminium
 Paduan Aluminium untuk Transportasi

Untuk otomotif, aluminium banyak dipakai sebagai bodi mobil dan mesin. Paduan
aluminium untuk mesin sebagian besar adalah seri 3XX, Al-Si-Cu, yang memiliki
kemampuan cor sangat baik, kekerasan yang tinggi dan, dapat dilaku panas. Untuk
aplikasi pesawat terbang, salah satu paduan aluminium yang populer digunakan adalah
duralumin (Al - 4% Cu - 0,5% Mg - 0,5% Mn). Paduan ini memiliki kekerasan tinggi,
namun ketahanan korosinya rendah, sehingga perlu dilapisi lagi dengan lembaran
aluminium murni, yang sering disebut sebagai aluminium cladding. Duralumin adalah
material yang digunakan oleh Wright bersaudara untuk membuat badan pesawat terbang
hasil temuannya. Sementara itu, sebagian besar kereta ringan terbuat dari aluminium,
seperti halnya pada badan kapal cepat (seacat), yang bertujuan untuk mengurangi berat
secara signifikan dan tahan korosi,

 Paduan Aluminium untuk Pembungkus

Aluminium murni untuk pembungkus (packaging), dibuat dalam bentuk lembaran
tipis (foil). Sebagai kaleng minuman, aluminium juga sangat populer (Gambar 5.5).
Aluminium yang dipakai untuk tujuan ini biasanya dibuat dari seri 5XXX, Al-Mg, yang
relatif ulet, namun memiliki kemampuan pengerasan regang yang tinggi.

Paduan Aluminium untuk Konstruksi
Paduan aluminium yang tidak korosif menyebabkan pemakaiannya untuk aplikasi
konstruksi relatif yang tidak memerlukan biaya perawatan. Aplikasi aluminium
bervariasi mulai dari rangka jendela, rangka pintu, rangka atap, tirai, atap, dan lain-lain.
Sebagian besar aluminium konstruksi terbuat dari seri 3XXX (Gambar 5.5)

 5. 2. Tembaga
Karakteristik Tembaga
Tembaga merupakan logam yang khusus dan sangat bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari.. Logam ini berbeda dengan logam-logam lainnya, terutama dalam hal
konduktivitas listrik. Dalam tingkatan volume yang sama, tembaga memiliki
konduktivitas listrik paling tinggi jika dibandingkan dengan logam lain, kecuali perak
murni. Selain itu, tembaga juga memiliki sifat yang baik dalam hal konduktivitas panas,
ketahanan korosi, pengubahan bentuk, dan penyambungan. Namun demikian, di sisi
lain, tembaga dan paduannya adalah logam yang memiliki kekuatan rendah. Beberapa
paduan tembaga juga rentan terhadap korosi retak tegang, kecuali jika perlakuan lepas
tegang. Titik lebur tembaga adalah 1.085 °C. Logam ini memiliki struktur kristal FCC,
dan sama sekali tidak tertarik oleh magnet (bersifat diamagnetik).

Warna asli dari tembaga adalah kemerahmudaan, tetapi kita lebih sering
melihatnya berwarna coklat dan kehijauan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut
karena keberadaan lapisan oksida pada permukaannya. Serupa dengan aluminium,
tembaga dan paduannya akan membentuk lapisan tipis CuO yang berwarna gelap jika
beraksi dengan oksigen. Lapisan tersebut tahan terhadap korosi, sekaligus melindungi
bagian di bawahnya dari korosi lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, warna tembaga
akan menjadi biru kehijauan akibat terbentuknya lapisan tipis Cu2(OH)2CO3 hasil reaksi
dengan CO, di udara. Namun demikian, pada kebanyakan lingkungan terutama pada
atmosfer biasa, tembaga dan paduannya akan mengalami perubahan warna menjadi biru
kehijauan. Penambahan lapisan pernis pada permukaan dapat membantu memelihara
warna asli tembaga dan paduannya.

Tembaga memiliki keuletan dan kelunakan yang tinggi. Oleh karena itu, perlakuan
lain harus diberikan untuk mendapatkan kekerasan tembaga. Sebagian besar paduan
tembaga tidak bisa dikeraskan dengan perlakuan panas. Dengan demikian, pengerjaan
dingin dan pemaduan menjadi pilihan yang mutlak untuk digunakan. Kelunakan yang
tinggi juga dapat membuat tembaga sulit untuk dimesin.
Bijih tembaga di alam terbagi menjadi tiga jenis, yaitu dalam bentuk sulfida,
oksida, atau karbonat. Contoh bijih sulfida adalah kalkopirit (CuFeS2), bornit
(Cu5FeS4), kovelit (CuS), kalkosit (Cu2S). Sementara itu, contoh bijih oksida adalah
kuprit (Cu2O). Bijih sulfida diekstraksi dengan metode flotasi, sedangkan bijih oksida
umumnya diekstraksi dengan menggunakan metode pelelehan.
Ilustrasi proses pengolahan tembaga dari bijih sampai menjadi logam tembaga
ditunjukkan dalam Gambar 5.6. Bijih tembaga yang berasal dari tambang diangkut dan
dimasukkan ke dalam penghancur utama. Kemudian, bijih tersebut dihancurkan dan
diayak menjadi bijih tembaga dengan ukuran ~0,5 mm. Bijih tembaga halus tersebut
kemudian dimasukkan ke dalam tangki flotasi untuk memperoleh tembaga murni.
Bijih yang masih kasar akan dilakukan proses pelelehan, di mana larutan asam sulfur
diberikan untuk melarutkan tembaga. Selanjutnya, larutan yang mengandung tembaga
terlarut akan melalui proses electrowining untuk memperoleh tembaga murni.

Sistem Penamaan Paduan Tembaga
Penamaan paduan tembaga ditentukan melalui sistem penamaan UNS (Unified
Numbering System) yang dibuat oleh ASTM (American Society of Testing Materials).
Sistem tersebut membagi paduan tembaga menjadi dua golongan, yaitu tembaga
pengerjaan dan tembaga tuang. Penamaan yang diberikan menggunakan lima digit dan
diawali dengan huruf C. Pembedaan antara tembaga pengerjaan dan tembaga tuang
dapat dilihat dari digitnya. Tembaga dengan nomor C10000 hingga C79999 merupakan
tembaga pengerjaan, sedangkan nomor C80000 hingga C99999 merupakan tembaga
tuang

Aplikasi Tembaga dan Paduannya
Dari zaman dahulu hingga sekarang, tembaga memainkan peranan besar dalam
kehidupan umat manusia. Figur 5.7 menunjukkan beberapa aplikasi tembaga. Zaman
dahulu, manusia menggunakan tembaga sebagai senjata dan peralatan rumah tangga.
Kini, manusia lebih banyak mengunakan tembaga untuk aplikasi elektronik, seperti
kabel, dinamo, radio, dan televisi. Oleh karena tembaga adalah penghantar panas yang
baik, tembaga juga digunakan sebagai radiator kendaraan bermotor, pendingin ruangan,
dan alat penghangat ruangan. Ketahanan korosi yang dimiliki tembaga menjadikan
tembaga sebagai salah satu material pilihan pada bidang konstruksi, khususnya untuk
pipa dan atap.
5. 3. Magnesium
Karakteristik Magnesium
Magnesium merupakan logam rekayasa paling ringan di dunia. Dengan berat jenis
1.740 kg/m3, dalam satu volume yang sama, berat magnesium hanya dua pertiga dari
aluminium atau seperempat kali Baja. Selain itu, logam yang memiliki warna putih
keperakan ini adalah logam yang sangat aktif secara kimia. Serbuk magnesium yang
berukuran halus dapat terbakar di udara dan menghasilkan nyala putih. Pembakaran
terjadi akibat reaksi magnesium dengan nitrogen atau karbon dioksida. Ketahanan
korosi magnesium pada atmosfer biasa tergolong cukup baik, tetapi tidak cukup baik
pada atmosfer laut. Di udara yang cukup lembab, magnesium akan membentuk lapisan
protektif magnesium karbonat (MgCO3.Mg(OH)2) di bagian permukaannya. Pada suhu
ruang, magnesium merupakan logam yang sulit diubah bentuknya. Oleh karena itu,
produk magnesium lebih banyak dibuat dengan proses pengecoran atau proses
pengerjaan panas pada suhu sekitar 200-350 °C.
Oleh karena kereaktifannya di alam, magnesium hanya dapat ditemukan dalam
bentuk senyawanya. Persenyawaan magnesium tersebut dapat berupa magnesit,
dolomit, dan magnesium hidroksida. Magnesit atau MgCO3 merupakan persenyawaan
yang paling umum untuk diekstraksi menjadi logam magnesium. Magnesit mengandung
47,8% magnesium oksida dan 52,2% karbon dioksida. Akan tetapi, terkadang,
kalsium karbonat dan besi karbonat juga terkandung dalam magnesium.
Proses Pengolahan Magnesium
Proses Silikotermik
Proses ini juga dikenal sebagai Pidgeon, Magnetherm, atau Bolzano. Sebelum
proses silikotermik dilakukan, bijih magnesium harus sudah diolah menjadi bentuk
konsentratnya. Selanjutnya, konsentrat MgCO3 melalui proses kalsinasi hingga menjadi
magnesium oksida (MgO). Proses silikotermik dilakukan dengan memberikan panas
secara terus menerus pada tekanan gas yang rendah, dengan menggunakan ferrosilikon,
sehingga magnesium oksida cair berkurang secara bertahap. Proses tersebut dilakukan
pada suhu sekitar 1.400 °C. Secara umum, reaksi dari proses tersebut adalah sebagai
berikut.

 Si(s) + MgO(s) .. SiO2(s) + Mg(g) (5.5)

 Mg(g) .. Mg (liq, s) (5.6)

Magnesium yang terbentuk akan menguap dan terkondensasi jauh dari daerah
yang panas. Magnesium terkondensasi ini memiliki kemurnian sekitar 99,95%.
Selanjutnya, proses yang tertinggal adalah melebur magnesium tersebut dan
membentuknya menjadi produk melalui metode pengecoran.

Proses Elektrolitik
Sebelum proses elektrolitik dilakukan, magnesium oksida harus diubah menjadi
magnesium klorida melalui proses klorinasi atau disebut pula proses Farben.
Selanjutnya, magnesium klorida akan dimasukkan ke dalam sel elektrolisis seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5.8. Pada gambar tersebut, grafit bertindak sebagai anoda,
sedangkan Baja sebagai katodanya. Elektrolit yang digunakan adalah alkalin klorida dan
magnesium klorida. Suhu yang digunakan adalah 680-750 °C. Dalam kondisi ini,
magnesium klorida akan terdekomposisi menjadi logam magnesium dan gas klorin
sesuai reaksi dalam persamaan berikut.
 MgCl2 .. Mg + Cl2(g) (5.7)
Magnesium yang terbentuk pada katoda akan terangkat ke atas permukaan
(lebih ringan dari elektrolit) dan ditampung pada ruang penampungan katoda.
Sementara, gas klorin yang dihasilkan di anoda akan ditampung pada ruang
penampungan anoda.

Sistem Penamaan Magnesium
Sistem penamaan magnesium yang umum dibuat oleh ASTM. Sistem ini
menggunakan kombinasi huruf dan angka untuk mengidentifikasi jenis paduan yang ada
pada paduan tersebut. Dua huruf pertama menandakan unsur paduan utama dengan kode
yang sudah ditetapkan. Kode huruf penanda unsur paduan magnesium dapat dilihat
pada Tabel 5.4. Dua huruf tadi kemudian diikuti oleh dua angka. Dua angka tersebut
mengindikasikan kandungan unsur-unsur paduan yang dikodekan pada dua huruf
sebelumnya. Huruf kelima merupakan penjelasan modifikasinya. Tanda "setrip"
diberikan setelah huruf kelima, kemudian, dilanjutkan dengan kode yang sesuai dengan
jenis perlakuan panas yang dialami paduan tersebut. Kode perlakuan panas pada paduan
magnesium dapat dilihat pada Tabel 5.5. Untuk lebih jelasnya, ambil contoh paduan
ZE63A-T6. Paduan magnesium ini mengandung paduan utama seng sebesar 6% dan
logam tanah jarang sebesar 3%. Selanjutnya, simbol A merupakan modifikasi
paduannya, sedangkan T6 menandakan bahwa paduan telah mengalami perlakuan T6.

Aplikasi Magnesium dan Paduannya
Magnesium adalah logam yang relatif mahal sehingga logam ini lebih jarang
digunakan untuk material konstruksi jika dibandingkan dengan aluminium dan baja.
Namun demikian, untuk aplikasi-aplikasi tertentu, pemakaian magnesium lebih disukai.
Aplikasi-aplikasi magnesium dapat dilihat pada Gambar 5.9. Dalam memproduksi baja,
logam non-fero, kaca, dan semen, magnesium oksida (MgO) sering digunakan sebagai
material refraktori yang tahan suhu tinggi. Magnesium juga sering digunakan bersama
aluminium sebagai material paduan untuk membuat kaleng minuman. Selain itu,
magnesium juga dipakai sebagai anoda korban untuk melindungi pipa, tangki, dan
struktur-struktur yang terkubur di bawah tanah. Dalam bidang militer, penyala api yang
terbuat dari magnesium dapat digunakan untuk membuat api pada kondisi bertahan
hidup (survival).

5. 4. Titanium
Karakteristik Titanium
Dalam keadaan murni, titanium adalah logam yang cerah dan berwarna putih.
Logam ini adalah logam yang ringan. Berat titanium 40% lebih ringan daripada baja dan
60% lebih berat dari aluminium. Titanium juga memiliki ketahanan korosi yang baik.
Ketahanan korosi yang baik disebabkan karena kemampuan logam ini untuk
membentuk lapisan pasif di permukaannya, yang mencegah korosi lebih lanjut.
Ketahanan yang baik juga ditunjukkan titanium terhadap sulfur, larutan klorin, gas
klorin, dan berbagai asam organik.
Titanium merupakan logam yang kuat. Dalam keadaan murni, kekuatan luluhnya
bisa mencapai 241 MPa dengan elongasi sebesar 55%. Titik lebur logam ini adalah
1.677 °C. Selain itu, titanium bukanlah penghantar listrik yang baik, jika dibandingkan
dengan tembaga, daya hantar listrik titanium hanya 3,1%-nya saja. Sifat kemagnetan
titanium juga kurang baik sehingga logam ini digolongkan sebagai logam para-
magnetik.
Dalam bidang pengelasan, titanium tergolong sulit untuk dilas sebab pada suhu
yang tinggi, titanium rentan terhadap hidrogen, oksigen, dan nitrogen yang dapat
menyebabkan penggetasan. Untuk itu, pengelasan titanium membutuhkan perlakuan-
perlakuan khusus yang dapat mencegah difusi gas-gas tadi.

Proses Pembuatan Titanium
Titanium menempati urutan kesembilan dalam hal ketersediaan bijihnya di alam.
Bijih titanium yang digunakan untuk memproduksi titanium adalah rutile (TiO2) atau
titanium dioksida dan ilmenit (FeTiO3). Logam titanium diproduksi dengan
menggunakan proses Kroll yang dikembangkan oleh seorang ahli metalurgi asal
Jerman, William Justin Kroll, pada tahun 1946. Proses tersebut melibatkan konsentrasi
atau pemisahan titanium dioksida dari pengotornya termasuk besi oksida. Selanjutnya,
titanium dioksida dimasukkan ke dalam reaktor tangki bersama dengan klorin dan batu
bara pada suhu sekitar 900 °C. Hasil dari proses ini adalah titanium tetraklorida sesuai
reaksi dalam persamaan berikut.
 TiO2 + Cl2 + C .. TiC14 + CO2 (5.8)
Setelah proses ini, pemurnian kembali dilakukan dengan menggunakan distilasi
dan pengendapan untuk memisahkan pengotor dari titanium tetraklorida. Kemudian,
ekstraksi titanium dilakukan dengan mereaksikan titanium tetraklorida dengan
magnesium pada sebuah tabung baja tahan karat, bersuhu 1.100 °C di bawah atmosfer
argon sesuai reaksi dalam persamaan berikut.
 TiC14 + 2Mg .. Ti + 2MgC12 (5.9)
Hasil proses ini adalah logam titanium padat perbentuk spons dan magnesium
klorida yang berwujud cair. Selanjutnya, logam titanium berbentuk spons tadi dilebur
pada dapur yang vakum dan dicetak menjadi batangan

Jenis-Jenis Paduan Titanium
Titanium murni dapat berstruktur heksagonal yang tersusun padat (HCP) dan
dapat pula berstruktur kubus pemusatan ruang (BCC). Pada suhu di bawah 883 °C,
titanium akan berstruktur HCP atau biasa disebut a-titanium, sedangkan pada suhu di
atas 883 °C, titanium akan berstruktur BCC atau biasa disebut ß-titanium. Penambahan
unsur paduan pada titanium diketahui dapat menstabilkan fase a atau ß. Aluminium,
gallium, nitrogen, dan oksigen merupakan unsur paduan penstabil fase a. Molibdenum,
vanadium, tungsten, tantalum, dan silikon merupakan penstabil fase ß.

Berdasarkan komposisi fasenya, titanium diklasifikasikan menjadi empat
kelompok, sebagai berikut.

1. Titanium murni dan paduan rendah
2. Paduan alfa
3. Paduan alfa-beta
4. Paduan beta


Titanium murni dan paduan rendah memiliki fase alfa yang dominan dan fase beta
berbentuk bulat yang tersebar merata di matriks alfa. Selain itu, terdapat pula unsur besi
yang berlaku sebagai penstabil fase beta. Titanium murni memiliki kekuatan yang relatif
rendah dan ketahanan korosi yang baik.
Paduan alfa memiliki unsur paduan aluminium dan timah. Paduan alfa secara
umum memiliki ketahanan mulur dan ketangguhan yang baik. Paduan ini lebih dipilih
untuk aplikasi pada suhu tinggi. Kemampuan las paduan alfa sangat baik, tetapi
kemampuan tempanya lebih buruk jika dibandingkan dengan paduan beta. Sifat ini
membuat paduan alfa rentan terhadap cacat-cacat penempaan. Namun demikian,
pengurangan reduksi tempa dan pemanasan berulang dapat mengurangi masalah
tersebut. Paduan alfa tidak dapat dikuatkan melalui perlakuan panas.
Paduan alfa-beta mengandung 4-6% paduan penstabil fase beta. Oleh karena itu,
fase paduan ini akan terdiri atas fase campuran alfa dan beta. Fase beta pada paduan ini
berkisar antara 10-50%. Paduan alfa-beta merupakan paduan yang dapat dilaku panas.
Perlakuan panas dilakukan untuk mengontrol jumlah dan morfologi fase beta. Oleh
karena itu, paduan ini memiliki kekuatan yang tinggi dan kemampuan pengubahan
bentuk pada kondisi panas yang baik. Ketahanan mulur paduan ini lebih rendah jika
dibandingkan dengan paduan alfa.
Paduan beta mengandung sejumlah unsur paduan, seperti vanadium, niobium, dan
molibdenum yang berfungsi sebagai penstabil fase beta. Kemampuan tempa paduan ini
sangat baik pada berbagai suhu jika dibandingkan dengan paduan alfa.
Kemampukerasan paduan ini sangat baik dan mudah diberikan perlakuan panas.
Perlakuan panas berupa perlakuan pelarutan diikuti dengan penuaan, dapat membentuk
fase alfa yang halus dan tersebar merata pada fase beta. Oleh karena itu, paduan ini
sangat kuat, tetapi keuletan dan ketahanan fatiknya rendah.

Sistem penamaan titanium dibuat berdasarkan komposisinya. Sebagai contoh,
paduan Ti-5A1-2,5Sn yang memiliki unsur paduan berupa 5% aluminium dan 2,5%
timah. Contoh lainnya adalah Ti-6A1-4V yang memiliki unsur paduan berupa 6%
aluminium dan 4% vanadium.

Aplikasi Titanium dan Paduannya
Paduan titanium dipilih karena kekuatan, ketahanan fatik, dan ketahanan mulurnya
yang sangat baik daripada logam-logam lainnya. Aplikasi titanium dan paduannya dapat
dilihat pada Gambar 5.10. Aplikasi titanium yang paling penting adalah aplikasi pada
industri penerbangan. Banyak komponen pesawat jet yang menggunakan titanium,
misalnya, baling-baling mesin, penutup mesin, rangka pesawat, kompresor, dan lain-
lain. Titanium juga banyak dipakai untuk instalasi perminyakan lepas pantai, seperti
pipa, penukar panas (heat exchanger), kondensor, dan komponen-komponen struktural.
Dalam dunia kesehatan, titanium dipakai untuk membuat kursi roda, alat bantu dengar,
katup jantung, pompa insulin, dan penyambung tulang. Titanium juga banyak
digunakan pada bidang olahraga, seperti sepeda, raket tenis, pemukul golf, dan pedang
anggar.
5. 5. Logam Refraktori
Refraktori merupakan material yang mampu bertahan, serta tidak mengalami
pelunakan dan deformasi pada suhu yang sangat tinggi. Material refraktori yang paling umum
adalah keramik. Keramik mampu bertahan pada suhu yang sangat tinggi, lebih dari 1.580 °C.
Tidak hanya keramik yang memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi, beberapa logam pun
memiliki karekteristik seperti itu. Logam-logam yang demikian disebut logam refraktori.
Logam refraktori adalah logam yang mampu mempertahankan kekuatannya pada suhu
tinggi. Logam ini memiliki titik lebur yang tinggi sehingga cocok untuk aplikasiaplikasi yang
dioperasikan pada lingkungan bersuhu tinggi. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dilihat pada
Gambar 5.11. Kelemahan logam refraktori adalah ketahanan korosi dan oksidasi logamnya
cukup buruk. Namun demikian, pemberian lapisan protektif (coating) dapat memperbaiki
ketahanan korosi dan oksidasi logam ini. Logam-logam yang tergolong sebagai logam
refraktori adalah niobium, tantalum, molibdenum, tungsten, dan renium. Dalam definisi yang
lebih luas, titanium, vanadium, kromium, zirkonium, dan hafnium juga dapat digolongkan
sebagai logam refraktor
Gambar 5.11 Aplikasi-aplikasi logam refraktori. (a) Pesawat luar angkasa menggunakan paduan Nb-
10W-10Hf-0,1Y terutama pada bagian moncongnya; (b) filamen bola lampu yang terbuat
dari tantalum, memiliki suhu 400 °C lebih rendah daripada filamen tungsten, (c) mur dan
baut untuk aplikasi pada lingkungan bersuhu tinggi yang terbuat dari tantalum; (d)
termokopel yang terbuat dari paduan tungsten dan renium; (e) elemen pemanas untuk
dapur yang terbuat dari molibdenum disilikat, MoSi2
Niobium
Niobium dalam keadaan murni merupakan logam yang ulet dan mudah
difabrikasi pada suhu ruang. Titik lebur logam ini adalah 2.468 °C. Niobium dapat
membentuk lapisan oksida pada hampir semua lingkungan asam. Lapisan ini
memberikan ketahanan korosi yang baik, khususnya terhadap asam nitrat dan
hidroklorat. Pada suhu yang tinggi, logam ini bereaksi dengan halogen, oksigen,
nitrogen, karbon, hidrogen, dan sulfur. Reaksi tersebut membentuk senyawa yang
memiliki titik lebur sangat tinggi, terutama jika bereaksi dengan karbon, boron,
silikon, dan nitrogen.
Kebanyakan niobium ditemukan bersama dengan tantalum. Bijih niobium yang
sering ditemukan adalah columbite, niobite-tantalite, pyrochlore, dan euxenite. Namun
demikian, jumlah bijih niobium yang paling banyak ditemukan adalah pyrochlore.
Proses ekstraksi niobium melibatkan proses klorinasi, diikuti dengan proses destilasi
dan hidrolisis, hingga dihasilkan bentuk oksida dari niobium. Niobium kemudian
diekstrak melalui reaksi aluminotermik sesuai reaksi dalam persamaan berikut:
 3Nb2O5 + 10Al .. 6Nb + 5Al2O3 (5.10)
Selama reaksi ini, oksida akan terpisah dari niobium cair dan menjadi terak.
Penggunaan niobium lebih banyak pada aplikasi yang membutuhkan ketahanan
suhu tinggi, seperti komponen pesawat luar angkasa dan roket. Paduan Nb-10W-10Hf-
0,1Y digunakan untuk kendaraan luar angkasa yang membutuhkan ketahanan suhu
tinggi ketika melintasi atmosfer bumi. Selain itu, paduan ini juga dipakai untuk pesawat
supersonik, serta bagian moncong rudal dan roket. Seri yang digunakan untuk
komponen nuklir adalah paduan Nb-1Zr, di mana memiliki ketahanan korosi dan
ketahanan radiasi yang baik. Paduan ini juga digunakan dalam komponen lampu uap
magnesium.

Tantalum
Dengan berat jenis sebesar 16,6 g/cm3, tantalum termasuk ke dalam logam yang
berat. Titik lebur logam ini mencapai 2.996 °C. Selain itu, logam ini mempunyai
keuletan, ketangguhan, dan konduktivitas termal yang sangat baik. Ketahanan korosi
logam ini sangat baik, khususnya terhadap lingkungan asam, senyawa organik, dan
larutan garam. Namun demikian, tantalum dapat terdegradasi oleh asam hidroflourat,
alkali kuat, bromin yang tercampur methanol, dan uap asam sulfat.
Logam tantalum umumnya berasal dari bijih tantalite (FeO.Ta2O5). Proses
ekstraksi biasanya diawali dengan memisahkan bijih dari pengotor dan melakukan
pengendapan hidroksidanya. Proses dilanjutkan dengan melakukan kalsinasi untuk
membentuk tantalum pentaoksida atau melakukan kristalisasi dengan potasium flourida
(KF) hingga terbentuk potasium flourotantalat (K2TaF7). Potasium flourotantalat yang
terbentuk kemudian direduksi dengan lelehan sodium hingga dihasilkan serbuk
tantalum. Serbuk tantalum yang terbentuk dapat dimurnikan dengan proses peleburan
sinar elektron hingga memperoleh kemurnian lebih dari 99,95%.
Tantalum dapat digunakan untuk filamen bola lampu. Filamen tantalum akan
berpijar pada suhu 1.700 °C, lebih rendah 400 °C dari filamen tungsten. Hal tersebut
menjadikan bola lampu tantalum lebih unggul daripada bola lampu tungsten. Paduan
Ta-10W biasa diaplikasikan pada komponen-komponen pesawat luar angkasa, seperti
katup gas, mesin roket, dan baut pengencang. Dalam bidang kedokteran, tantalum
banyak dipakai untuk peralatan bedah dan peralatan kimia yang tahan terhadap zat
asam. Tantalum juga dapat dimanfaatkan sebagai kapasitor yang diaplikasikan pada
telepon seluler dan peralatan elektronik lain.
Molibdenum
Molibdenum merupakan logam berwarna putih keperakan yang ulet dan lebih
lunak daripada tungsten. Logam ini memiliki titik lebur 2.621 °C dan berat jenis 10,2
g/cm3. Penguatan yang bisa dilakukan pada logam ini adalah dengan pengerasan regang
saja, tidak bisa dengan perlakuan panas. Pada suhu ruang, molibdenum tidak bereaksi
dengan oksigen dan air. Namun demikian, pada suhu tinggi, molibdenum bereaksi
dengan oksigen membentuk molibdenum trioksida. Ekspansi panas yang dimiliki
molibdenum paling kecil jika dibandingkan dengan logam komersial lainnya,
sedangkan konduktivitas panasnya dua kali lipat besi.
Bijih molibdenum yang paling banyak diolah menjadi molibdenum adalah
molibdenum disulfida (MoS2). Bijih tersebut mengandung kurang lebih 60%
molibdenum. Proses produksi molibdenum diawali dengan pembakaran molibdenum
disulfida pada suhu 700 °C hingga teroksidasi menjadi molybdenum (VI) oksida
(MoO3). Oksida molibdenum tersebut kemudian diekstraksi menjadi serbuk
molibdenum melalui proses reduksi dengan hidrogen.
Aplikasi molibdenum antara lain untuk unsur paduan pada baja dan besi tuang
untuk meningkatkan kemampukerasan, ketangguhan, kekuatan, ketahanan mulur, dan
ketahanan korosi. Molibdenum juga digunakan sebagai bahan dasar katoda yang dipakai
pada radar. Di bidang industri, molibdenum dipakai untuk inti pada pengecoran dengan
cetakan logam dan sebagai elemen pemanas pada dapur listrik. Industri nuklir, kimia,
kaca, rudal, dan pesawat terbang juga banyak menggunakan molibdenum sebagai bahan
dasarnya.

Tungsten
Tungsten merupakan logam berwarna putih keabu-abuan yang memiliki berat
jenis 19,6 g/cm. Titik lebur yang mencapai 3.410 °C menjadikan tungsten sebagai
logam dengan titik lebur tertinggi di antara logam-logam lainnya. Pada suhu ruang,
tungsten tahan terhadap banyak zat kimia, tetapi tungsten dapat larut dalam larutan
asam nitrat dan asam hidroflourat. Pada suhu yang lebih tinggi, kecenderungan
tungsten untuk terserang lebih besar. Pada suhu lebih dari 250 °C, tungsten bereaksi
dengan cepat terhadap asam fosfat dan klorin. Tungsen akan teroksidasi di atas suhu
500 °C. Tungsten mulai bereaksi dengan banyak gas pada suhu 1.000 °C, sedangkan
pada suhu lebih dari 1.000 °C, tungsten mulai bereaksi dengan logam-logam lain3
Wolframite atau (FeMn)WO3 adalah bijih tungsten yang paling utama. Proses
pengolahan bijih tungsten melalui beberapa tahap. Tahap awal yang paling penting
adalah mengubah bijih tungsten menjadi bentuk oksidanya, WO3. Kemudian, oksida
tersebut dipanaskan bersama hidrogen atau karbon agar menjadi serbuk tungsten.
Serbuk tersebut selanjutnya dapat diolah dengan metalurgi serbuk menjadi produk
padat.
Tungsten diaplikasikan untuk alat potong dan berbagai aplikasi yang
membutuhkan ketahanan aus. Dengan mengombinasikan tungsten bersama kobalt
sebagai pengikat, tungsten dapat dibentuk menjadi karbida sementit yang tahan aus.
Dalam bentuk kawatnya, tungsten dapat dipakai untuk bohlam, peralatan elektronik, dan
alat pengukur suhu termokopel. Beberapa jenis paduan super juga memanfaatkan
tungsten sebagai paduannya, seperti Hastelloy dan Stellite yang dipakai pada baling-
baling turbin.

Renium
Renium merupakan logam dasar yang banyak terdapat pada beberapa jenis
mineral, tetapi dalam jumlah yang sangat sedikit. Logam ini memiliki berat jenis 21,4



g/cm3, atau hampir dua kali lebih berat daripada timbal. Titik lebur logam ini mencapai
3.180 °C. Logam yang berwarna putih keperakan ini adalah logam yang cukup keras.
Perbedaan logam ini dengan logam-logam refraktori lainnya adalah renium tidak dapat
membentuk karbida. Ketahanan kimia renium tergolong baik, sebab tahan terhadap
asam sulfat dan asam hidroklorat, tetapi tidak pada asam nitrat. Renium juga tahan
terhadap timah, seng, perak, tembaga, dan aluminium cair.
Sumber renium yang umum adalah asam perrhenik (HreO4) dan amonium
perrhenat (NH4ReO4). Sumber yang lebih sering diolah menjadi logam renium adalah
amonium perrhenat. Amonium perrhenat diubah menjadi serbuk renium melalui proses
reduksi hidrogen. Reduksi hidrogen tersebut dilakukan pada 380 °C sesuai dengan
persamaan berikut:
 2NH4ReO4 + 7 H2 .. 2Re + 8 H2O + 2 NH3 (5.11)
Proses dilanjutkan dengan pemurnian dan siklus reduksi pada suhu sekitar 700-
800 °C, untuk menghilangkan sisa renium oksida yang masih tersisa. Pembentukan
serbuk menjadi logam padat biasanya dilakukan dengan penekanan dingin yang
dilanjutkan dengan proses sintering.
Hasil proses sintering dapat dicapai dengan penganilan berulang hingga mampu
dibentuk menjadi berbagai bentuk produk. Renium banyak dipasarkan dalam bentuk
batangan, balok, lembaran, dan kawat. Paduan tungsten-renium merupakan paduan yang
sering digunakan sebagai termokopel. Paduan super yang ditambahkan pada renium
merupakan material untuk membuat komponen mesin pesawat jet.
5. 6. Paduan Super
Paduan super merupakan suatu paduan yang memiliki kekuatan dan ketahanan
mulur yang sangat baik pada suhu tinggi. Di samping kuat, paduan super juga harus
memiliki ketangguhan yang baik. Selain itu, paduan super juga harus memiliki
kestabilan permukaan serta ketahanan yang baik terhadap korosi, oksidasi, karburisasi,
dan sulfidisasi pada suhu tinggi. Paduan yang digunakan untuk paduan super adalah
besi, kobalt, nikel, krom, serta sejumlah tungsten, molibdenum, tantalum, titanium, dan
aluminium. Aplikasi-aplikasi dari paduan super dapat dilihat pada Gambar 5.12
Gambar 5.12 Aplikasi paduan super. (a) Baling-baling turbin untuk pesawat, (b) pipa-pipa yang
digunakan di laut, (c) sistem pembuangan pada mobil Formula 1, dan (d) komponen-komponen
reaktor nuklir.
Berdasarkan unsur paduan dominannya, paduan super digolongkan menjadi tiga,
sebagai berikut:
1. Paduan super berbasis Nikel
2. Paduan super berbasis Kobalt
3. Paduan super berbasis besi

Paduan Super Berbasis Nikel
Paduan super berbasis nikel didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah nikel. Paduan ini mengandung 10-20% Cr; 5-10% Co; 8%
maksimum Al dan Ti, serta dalam jumlah kecil B, Zr, dan C. Terkadang, unsur-unsur
Mo, W, Ta, Hf, Fe, dan Nb sering juga ditambahkan. Kromium merupakan unsur yang
membuat paduan super ini tahan terhadap oksidasi. Unsur B dan Zr ditambahkan
sebagai unsur penguat batas butir yang mampu bersegregasi ke batas butir dan
menguatkannya terutama pada suhu yang tinggi. Pada suhu tinggi, kegagalan pada
logam lebih dikarenakan luncuran di batas butir (grain boundary sliding). Oleh karena
itu, B dan Zr akan mampu meningkatkan ketahanan mulur dan keuletan paduan super.
Selain itu, unsur C, Cr, Mo, W, C, Nb, Ta, Ti, dan Hf mampu membentuk karbida yang
akan mengendap di batas butir. Unsur-unsur Co, Fe, Cr, Nb, Ta, Mo, W, V, Ti, dan Al
juga dapat bertindak sebagai penguat larutan padat.
Titanium dan aluminium memiliki peranan yang penting pada paduan super
berbasis nikel. Unsur tersebut menstabilkan fase gamma-aksen (.'), sedangkan unsur
Co, Cr, Mo, dan W merupakan penstabil fase gamma (.). Fase . merupakan fase Al atau
Ni, sedangkan fase .' memiliki rumus kimia Ni3A1, Ni3Ti, atau Ni3(A1,Ti). Fase
tersebut dapat membentuk endapan yang stabil dan merata pada matriks. Fase tersebut
cukup ulet. Dengan demikian, di samping menguatkan matriks, fase ini tidak
menurunkan nilai ketangguhan retaknya. Kekuatan logam biasanya menurun seiring
meningkatnya suhu karena pada suhu yang tinggi dislokasi akan mudah untuk bergerak.
Akan tetapi, tidak demikian untuk paduan super berbasis nikel yang mengandung .',
paduan ini tahan terhadap suhu yang tinggi.
Kebanyakan paduan super berbasis nikel digunakan untuk aplikasi turbin yang
membutuhkan ketahanan pada suhu tinggi. Paduan nimonic yang mengandung 75%
nikel; 21% kromium; 2,5% titanium; 0,7% besi; 0,6% aluminium; dan 0,5% karbon
merupakan paduan super yang digunakan untuk membuat baling-baling turbin.
Waspaloy yang mengadung 55% nikel; 20% kromium; 13% kobalt; 4%
molibdenum; dan 5% besi juga merupakan material untuk membuat baling-baling dan
piringan turbin. Inconel juga tergolong paduan super berbasis nikel yang digunakan untuk
sistem pembuangan mobil balap Formula 1 dan juga tempat pembakaran sisa
pembuangan pada boiler.
Inconel adalah merek dagang terdaftar dari perusahaan logam khusus yang
mengacu pada kelompok austenitik nikel-kromium berbasis superalloy. Paduan
Inconel biasanya digunakan dalam aplikasi suhu tinggi.. Material ini sering disebut
dalam bahasa inggris sebagai "Inco" (atau kadang-kadang "Iconel"). Nama dagang
umum untuk Inconel meliputi:. Inconel 625, 625 Chronin, Altemp 625, Haynes 625,
625 dan Nickelvac Nicrofer 6020.
Paduan Inconel pertama kali dikembangkan pada tahun 1940-an oleh tim
penelitian di Wiggin Pekerjaan di Hereford, Inggris, dalam mendukung pengembangan
mesin jet Whittle.
Paduan super berbasis Kobalt
Paduan super berbasis kobalt didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah kobalt. Paduan super berbasis kobalt mengandung 10-30%
Ni; 25% Cr; 15% W, serta berbagai unsur dalam jumlah kecil, seperti Mo, Nb, Ta,
Ti, La, dan Fe. Penguatan yang terjadi pada paduan ini adalah penguatan larutan
padat dan penguatan oleh karbida. Paduan yang penguatan dominannya adalah
penguatan karbida biasanya mengandung karbon sekitar 0,4-0,85 %. Paduan yang
penguatannya adalah penguatan larutan padat dibagi menjadi tiga, yaitu paduan yang
digunakan pada (1) suhu sekitar 650-1.150°C, (2) suhu ±650°C, dan (3) paduan yang
tahan aus. Pada kenyataannya, tidak ada paduan super yang penguatan larutan padat
dapat dikatakan 100% (sempurna), tetapi terdapat fase kedua berupa karbida atau
intermetalik pada paduan tersebut.
Pengerasan dengan karbida menjadi keharusan pada paduan super berbasis kobalt
untuk mendapatkan sifat mekanik yang lebih baik. Untuk itu, kadar karbon biasanya
ditinggikan. Karbida yang terbentuk merupakan persenyawaan karbon dengan logam,
seperti Cr, W, V, dan sebagainya. Pada paduan super berbasis kobalt, hasil pengecoran
yang mengandung 0,4 %C biasanya terdapat karbida Cr23C6, Cr3C2, MC, atau M6C.
Perbandingan jumlah kromium dan karbon menentukan jenis karbida kromium yang
terbentuk. Bentuk karbida pun dapat dimodifikasi menjadi bentuk yang bulat, panjang,
dan terpisah. Suhu penuaan dan pendinginan yang dilakukan memainkan peranan
penting terhadap distribusi dan bentuk dari karbida tersebut.
Paduan super berbasis kobalt dapat dianil atau anil pelepasan tegangan, tetapi
jarang yang dilakukan perlakuan pelarutan sebab pada paduan jenis ini tidak terdapat
fase .' seperti yang terdapat pada paduan super berbasis kobalt. Perlakuan panas
penuaan mungkin dilakukan, tetapi tujuannya adalah untuk memodifikasi distribusi dari
karbida. Untuk paduan super berbasis kobalt, hasil pengerjaan, anil, dan pelepasan
tegangan sangat dianjurkan untuk menghilangkan tegangan sisa hasil proses fabrikasi.
Anil pada paduan super berbasis kobalt hasil pengecoran sangat tidak dianjurkan sebab
akan terbentuk karbida yang kasar pada saat pendinginan setelah anil.
UMCo-50 merupakan salah satu contoh merek dagang paduan super berbasis
kobalt yang sering digunakan untuk komponen-komponen dapur pembakaran. MP-35N
dan MP-159 digunakan untuk baut yang dipakai untuk aplikasi-aplikasi pada suhu
tinggi. Haynes 25 adalah paduan super berbasis kobalt yang terkenal dan digunakan
untuk bagian turbin gas, reaktor nuklir, dan baut khusus.
Paduan super berbasis Besi
Paduan super berbasis besi didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah besi. Penguatan pada jenis paduan super ini adalah dengan larutan
padat, pengendapan intermetalik, dan pengendapan karbida. Beberapa unsur
ditambahkan pada paduan ini untuk menciptakan sifat yang diinginkan. Oleh karena
struktur kristal paduan ini dominannya adalah FCC, beberapa unsur, seperti nikel,
aluminium, titanium, dan niobium dapat ditambahkan sebagai penguat. Karbon
ditambahkan sekitar 0,5% untuk membentuk endapan karbida. Terkadang, nitrogen dan
fosfor juga ditambahkan untuk mempertinggi pengaruhnya. Karbida yang terbentuk
dapat juga bertindak sebagai penguat batas butir. Ketahanan oksidasi pada paduan super
berbasis besi diberikan melalui penambahan kromium, nikel, dan mangan. Penambahan
boron sangat membantu meningkatkan sifat pada suhu tinggi. Semua paduan super
berbasis besi pada penggunaan suhu tinggi berstruktur FCC, sebab struktur FCC lebih
tahan terhadap mulur.
Paduan super berbasis besi umumnya jarang dilakukan pelepasan tegangan.
Paduan yang diberikan pengerjaan panas atau dingin biasanya membutuhkan pelepasan
tegangan untuk menghilangkan tegangan sisa dan meningkatkan keuletan. Namun
demikian, pelepasan tegangan pada paduan tersebut tidak dapat dilakukan jika
ketahanan korosi yang tinggi juga dibutuhkan. Oleh karena suhu pelepasan tegangan
yang dianjurkan biasanya berada di antara rentang suhu sensitasi, anil lebih disarankan
untuk dilakukan. Beberapa paduan j uga tidak bisa dilakukan pelepasan tegangan karena
masalah pada endapannya.
Paduan super berbasis besi yang mengandung titanium dan aluminium umumnya
mengalami penguatan endapan fase .'. Fase .' tergolong pada fase yang metastabil
karena dapat berubah menjadi fase . (Ni3Ti) jika rasio aluminium dan titanium terlalu
rendah. Perlakuan panas yang diberikan pada paduan tersebut adalah perlakuan
pelarutan diikuti dengan penuaan. Perlakuan pelarutan dan penuaan yang diberikan pada
paduan tersebut berbeda-beda, bergantung pada pengerjaan dingin yang telah dilakukan
pada paduan tersebut.
Beberapa contoh paduan super berbasis besi, seperti paduan A-268, Incoloy 901,
INCO 718, INCO 901, dan Multimet. Sama seperti paduan super jenis lain, paduan-
paduan super tersebut umumnya digunakan untuk aplikasi-aplikasi pada suhu tinggi,
seperti turbin, roket, reaktor nuklir, dan lain-lain.
5. 7. Logam Mulia
Logam mulia merupakan logam berharga yang biasa digunakan untuk membuat
koin, perhiasan, dan ornamen-ornamen khusus. Logam yang tergolong sebagai logam
mulia adalah emas, perak, serta golongan platina, seperti rutenium, rodium,
paladium, osmium, iridium, dan platina. Logam tersebut diberi nama logam mulia
karena tidak mudah terdegradasi dan memiliki kilauan yang khas. Logam tersebut
juga lebih ulet dan memiliki titik lebur lebih tinggi daripada logam-logam lainnya.
Pada bagian ini, logam mulia yang akan dibahas hanya emas, perak, dan platina
karena merupakan logam mulia yang paling umum.
Emas
Karekteristik Emas
Emas merupakan logam lunak yang berwarna kuning, yang sudah terkenal sebagai
logam berharga sejak zaman dahulu. Logam ini merupakan logam yang nonreaktif
secara kimia, yang dapat langsung ditemukan di alam dalam bentuk logamnya. Berat
jenis emas mencapai 19,3 g/cm3, sedangkan titik leburnya mencapai 1.064,18 °C. Jika
dibandingkan dengan logam murni lainnya, emas merupakan logam murni yang paling
ulet dan mudah ditempa. Satu gram emas dapat dibentuk menjadi lembaran dengan luas
0,6 meter persegi. Emas yang sudah dicetak memiliki kekuatan tarik sebesar 137 MPa.
Emas juga merupakan konduktor panas dan listrik yang baik, serta mampu menepis
radiasi infra merah.
Kemurnian emas dinyatakan dengan satuan karat. Emas murni memiliki nilai
sebesar 24 karat. Emas merupakan logam yang tahan terhadap korosi dan zat-zat kimia,
tetapi tidak semua zat kimia. Halogen bebas dapat bereaksi dengan emas, sedangkan
aqua regia melarutkan emas dengan cara membentuk gas klorin yang dapat menyerang
emas hingga membentuk ion kloraurat. Emas juga larut dalam larutan alkali seperti
potasium sianida dan dalam merkuri membentuk amalgamasi emas-merkuri.
Proses Pengolahan Emas
Di alam, emas sudah ada dalam wujud logamnya, tidak berikatan dengan unsur
lain. Namun demikian, bijih emas yang ditemukan di alam biasanya mengandung
berbagai material, yang dikenal sebagai material ikutan. Dalam satu bongkahan bijih
(logam) saja, jumlah material ikutan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan emas
itu sendiri. Selain metode tradisional, proses perolehan logam emas untuk skala yang
lebih besar sudah mulai dikembangkan sejak tahun 1783. Pada saat itu, diketahui bahwa
emas dapat larut dalam larutan alkali sianida. Proses tersebut kemudian dinamakan
sianidasi. Proses sianidasi merupakan proses pelarutan emas dengan larutan natrium
sianida. Suhu yang digunakan tidak terlalu tinggi, biasanya optimum pada suhu 85 °C.
Proses sianidasi dijelaskan oleh Elsner sesuai reaksi dalam persamaan:
4Au + 8NaCN + O2 + 2H2O .. 4NaAu(CN)2 + 4NaOH (5.12)
Proses tersebut adalah proses elektrokimia, di mana oksigen mengambil elektron
dari emas pada daerah katode, sedangkan ion emas dengan cepat membentuk kompleks
aurosianida di daerah anode. Setelah menjadi larutan kompleks, emas dapat diekstraksi
dengan beberapa metode salah satunya adalah dengan (metode) electrowining. Dalam
metode electrowinning, larutan kompleks dilewatkan pada sel electrowining yang terdiri
dari anode dan katode yang terbuat atas pelat baja tahan karat. Sel electrowining dapat
dilihat pada Gambar 5.13. Emas dengan sendirinya akan menempel pada katode
tersebut. Selanjutnya, katode dibersihkan dan endapan emas yang ada pada katode
diambil. Endapan emas kemudian dikeringkan. Oleh karena serbuk emas yang diperoleh
masih mengandung fluks, selanjutnya, emas dilebur pada suhu 1.200 °C hingga
dihasilkan emas murni.
Aplikasi Emas
Beberapa negara menggunakan emas sebagai alat transaksi ekonomi. Nilai uang
yang terbuat dari emas dilihat dari nilai intrinsiknya. Semakin besar kandungan emas,
semakin tinggi nilai uang tersebut. Namun demikian, penggunaan emas sebagai uang
logam mulai tergantikan ketika pemerintah melegalkan uang kertas sebagai alat
pertukaran. Penggunaan emas yang paling dominan saat ini adalah sebagai perhiasan.
Perhiasan dapat terbuat dari emas murni ataupun paduannya. Emas putih merupakan
paduan emas dengan nikel atau paladium, emas biru merupakan paduan emas dengan
besi, dan emas ungu merupakan paduan emas dengan aluminium. Emas merupakan
material yang digunakan untuk pelapisan sampel nonkonduktif yang akan dilakukan
pengamatan mikro menggunakan scanning electron microscope (SEM). Emas juga
dapat digunakan pada bidang kedokteran, di antaranya untuk gigi palsu, serta obat
untuk mengurangi sakit bagi penderita rheumatoid arthritis dan tuberculosis.


Perak
Karekteristik Perak
Perak merupakan logam yang berwarna putih berkilau dan cukup lunak. Logam
ini merupakan logam yang paling putih dan dapat dipoles, serta logam ini juga telah
dikenal sejak zaman dahulu sebagai logam yang berharga. Perak menempati urutan
pertama sebagai logam dengan konduktivitas listrik dan konduktivitas panas tertinggi di
antara logam-logam lainnya. Namun demikian, oleh karena harganya yang mahal,
tembaga lebih banyak digunakan sebagai penghantar listik daripada perak. Titik lebur
perak mencapai 964 °C, sedangkan berat jenisnya adalah 10,7 g/cm3.
Pada dasarnya perak tahan terhadap udara dan air yang murni. Namun demikian,
pada udara bebas, warna perak biasanya memudar karena membentuk perak sulfida.
Sulfur dapat menyerang perak dengan cepat. Lapisan perak sulfida yang terbentuk dapat
memudarkan warna perak dan menambah ketahanan listrik pada permukaannya, tetapi
hal tersebut tidak membuat perak terkorosi. Salah satu upaya pencegahannya adalah
dengan melakukan pelapisan. Teknik pelapisan yang dilakukan salah satunya dengan
menggunakan rodium dan nikel.
Proses Pengolahan Perak
Kebanyakan bijih logam perak ditemukan bersamaan dengan bijih logam emas.
Proses sianidasi juga dapat dilakukan pada bijih perak. Dengan demikian, produk yang
biasanya dihasilkan pada proses electrowinning emas bukanlah 100% emas murni,
melainkan batangan emas dan perak dengan kandungan tertentu. Apabila dalam suatu
bijih ditemukan unsur perak yang lebih dominan daripada emas dan yang ingin
didapatkan adalah logam perak sepenuhnya, maka poses pelarutan dengan asam nitrat
dapat memisahkan perak dengan emas. Proses pelarutan tersebut sesuai reaksi dalam
persamaan:
 3Ag + HNO3 .. 3AgNO3 + 2H2O + NO (5.12)
Reaksi ini dilakukan pada suatu bejana baja tahan karat. Gas NO yang dihasilkan
dioksidasi untuk memperoleh HNO3, yang dapat digunakan kembali untuk proses.
Larutan kemudian diendapkan sebagai AgCl dengan menambahkan NaCl. Selanjutnya,
logam perak dapat diperoleh dengan menambahkan besi. Rangkaian skematis proses
ekstraksi tersebut digambarkan dalam Gambar 5.14
Aplikasi Perak
Oleh karena harganya yang cukup tinggi, perak umumnya digunakan sebagai
perhiasan dan medali. Aplikasi lain perak adalah untuk membuat campuran bersama
timah dan raksa untuk penambalan gigi. Kekentalan campuran tersebut disesuaikan
dengan jumlah yang digunakan untuk mengisi lubang pada gigi. Dalam beberapa menit,
campuran tersebut akan sedikit mengeras dan dalam beberapa jam akan menjadi sangat
keras. Di bidang fotografi, perak digunakan untuk mencetak foto dalam bentuk perak
nitrat dan perak halida. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman, perak
jarang digunakan karena dunia fotografi sudah beralih ke model digital. Barang-barang
elektronik juga memanfaatkan perak karena konduktivitas listriknya yang sangat tinggi,
misalnya keyboard (papan tuts) komputer, perangkat audio yang canggih, dan papan
sirkuit cetak.
Platina
Karekteristik Platina
Platina merupakan logam mulia yang berwarna putih keabu-abuan dan ulet.
Keuletan platina mampu melebihi emas, perak, dan tembaga. Titik lebur platina
mencapai 1.754 °C, sedangkan berat jenisnya mencapai 21,45 g/cm3. Konduktivitas
listriknya hanya 16% dari konduktivitas listrik tembaga. Logam ini tidak teroksidasi
pada berbagai suhu, tetapi dapat terkorosi oleh halogen, sianida, dan alkali kuat.
Proses Pengolahan Platina
Platina merupakan logam yang inert. Keberadaanya di alam tidak bersenyawa
dengan unsur lain, melainkan murni sebagai logam platina. Namun demikian, bijih
logam platina di alam biasanya terkontaminasi oleh material-material lain sehingga
diperlukan proses pemisahan lebih lanjut. Banyak logam platina yang ditambang
bersamaan dengan nikel dan tembaga karena platina sering kali menjadi material ikutan
pada bijih tembaga dan nikel. Selama proses pemurnian nikel, logam-logam mulia,
seperti emas, perak dan platina, serta selenium dan telurium akan mengendap ke bagian
dasar dari sel electrorefining sebagai lumpur anoda.
Produksi platina langsung dari bijih logam platina dapat dilakukan dengan
beberapa metode. Logam platina biasanya memiliki berat jenis yang lebih tinggi
daripada material-material ikutannya. Dengan demikian, platina dapat dipisahkan dari
material pengikutnya melalui metode pengapungan biasa pada suatu kolam air. Sifat
platina yang nonmagnetik dapat dimanfaatkan untuk memisahkannya dari pengotor-
pengotor yang magnetik, seperti besi dan nikel, melalui metode pemisahan magnetik.
Titik lebur platina biasanya lebih tinggi daripada material ikutannya sehingga dengan
membakar bijih logam platina, material ikutannya akan mencair dan terpisah, sedangkan
platina tidak. Ketahanan platina terhadap asam hidroklorat dan asam sulfat membuatnya
dapat dipisahkan dari pengotor yang tidak tahan terhadap kedua asam tersebut. Dengan
memasukkan dan mengaduk bijih logam platina pada campuran kedua asam tadi, logam
platina dapat diperoleh. Salah satu atau kombinasi dari teknik-teknik pemisahan tersebut
dapat diterapkan dalam suatu rangkaian proses produksi platina hingga didapatkan
logam platina yang benar-benar murni.
Untuk pemurnian bijih logam platina yang mengandung emas dan golongan
platina lainnya, penambahan aqua regia akan lebih efektif. Dalam aqua regia, paladium,
emas, dan platina akan larut, sedangkan osmium, iridium, rutenium, dan rodium tetap
tidak beraksi. Emas akan diendapkan dari larutan dengan besi (III) klorida, kemudian
platina diendapkan sebagai amonium kloroplatina dengan menambahkan amonium
klorida. Selanjutnya, amonium kloroplatina dapat diubah menjadi logam platina dengan
pemanasan.
Aplikasi Platina
Sama seperti logam mulia lainnya, platina juga sering digunakan orang sebagai
perhiasan. Jam tangan mewah sering memanfaatkan platina sebagai material
pembuatnya dan diproduksi dalam jumlah yang terbatas. Pemanfaatan platina lainnya
adalah sebagai katalis pada reaksi kimia. Serbuk platina dapat digunakan untuk
mengatalisis reaksi pembakaran hidrogen. Oleh karena ketahanan korosinya, platina
sering digunakan untuk pelapisan pada komponen elektronik yang membutuhkan
kondisi operasi yang prima. Proses pelapisan yang dapat digunakan adalah
electroplating dalam suatu wadah yang berisi platina diklorida, PtCl2, atau platina
tetraklorida, PtC14. Selain itu, pelapisan dapat juga dilakukan dengan metode deposit
uap dan pengecatan menggunakan campuran serbuk platina. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar