BAB V
LOGAM NONFERO
5. 1. Aluminium
Aluminium merupakan logam yang
paling banyak digunakan setelah baja.
Karekteristik utamanya adalah
ringan (berat jenis = 2,7 g/cm3), memiliki konduktivitas
panas dan listrik yang tinggi,
memiliki ketahanan korosi yang baik dalam atmosfer
biasa, serta memiliki keuletan
yang cukup tinggi. Aluminium jauh lebih ringan jika
dibandingkan dengan baja (berat
jenis = 7,8 g/cm3). Salah satu kelemahan utama
aluminium adalah titik leburnya
yang relatif rendah, hanya 660 °C. Titik lebur baja jauh
lebih tinggi, yaitu sekitar 1.500
°C.
Dalam dunia industri otomotif,
sebagai material logam, penggunaan aluminium
kini menempati urutan kedua
setelah besi dan baja, baik secara pengecoran (cast
product) ataupun penempaan
(wrought product). Latar belakang kecenderungan (tren)
ini adalah karena aluminium
merupakan logam non-fero yang ringan, serta memiliki
sifat mekanis yang baik dan mudah
dibentuk.
Lebih dari 80% produk aluminium
pada industri manufaktur dihasilkan dengan
metode pengecoran. Hal ini
dikarenakan aluminium dapat dengan mudah
dikombinasikan dengan unsur lain
(alloying) untuk mengatur karekteristik, seperti sifat
mekanis, sifat mampu cor, sifat
mampu mesin (machinability), surface finish, ketahanan
korosi, konduktivitas panas, dan
listrik, sifat mampu las (weldability), serta ketahanan
terhadap hot tear (hot tear
resistance). Kualitas dari produk hasil pengecoran tersebut
masih dapat ditingkatkan dengan
metode modifikasi, penghalusan butir, dan perlakuan
panas.
Proses Pembuatan Aluminium
Tahapan proses pembuatan aluminium,
mulai dari bijih menjadi aluminium
batangan dapat dilihat pada
Gambar 5.1. Bijih aluminium dikenal dengan nama bauksit
yang mengisi sekitar 8% dari
kerak bumi. Bauksit merupakan oksida dari aluminium
dan terdapat dalam dua bentuk,
yaitu
1. Carstic Bauxite, yang sebagian
besar terdiri atas alumina monohidrat
(Al2O3.H2O), dan
2. Lateritic Bauxite, yang
sebagian besar terdiri atas alumina trihidrat
(Al2O3.3H2O).
Kandungan bauksit adalah 20-50%
alumina (Al2O3), 2-28% besi, 12-30% air dan
1-8% asam silikat. Warna bauksit
bisa merah, putih, kuning, (tergantung impurities
yang dikandung). Tempat temuan
utama bauksit adalah di Eropa (Prancis, Italia, Rusia,
Hungaria, negara-negara Balkan),
tetapi di Asia, Australia, Afrika, dan Amerika juga
terdapat banyak sumber bauksit.
Di Indonesia, deposit bauksit banyak ditemukan di
Pulau Bintan, Bangka, dan
Belitung, Sumatra.
a. Proses Bayer
Bauksit yang telah dimurnikan
sehingga kandungan aluminanya naik menjadi
sekitar 40-55%, kemudian diolah
untuk menjadi alumina murni melalui proses Bayer
(lihat gambar 5.2). Secara
skematis, tahapan proses ini dapat dilihat pada gambar
5.2. Tahap pertama adalah tahap
ekstraksi di mana bauksit dihancurkan dan
dimasukkan ke dalam autoklaf dan
dilarutkan dengan NaOH menjadi natrium
aluminat. Reaksi yang terjadi
pada tekanan tinggi dan suhu 110-270°C sesuai
dengan persamaan berikut:
Al(OH)3 + Na+ + OH- .. Al(OH)4-
+ Na+ (5.1)
Pada tahap ini, bauksit yang
tidak terlarut akan mengendap sebagai residu. Selain
itu, silikon yang dikandung
bauksit akan mengendap sebagai Na-Al-silikat, serta oksida
besi dan titanium akan mengendap
sebagai padatan. Endapan-endapan ini harus
dipisahkan dari larutan natrium
aluminat melalui proses pengendapan (settling),
kemudian, larutan disaring dan
dipindahkan ke tangki pengendapan. Lumpur endapan
dicuci untuk memperoleh kembali
NaOH dan kemudian didaur ulang ke awal proses.
Tahap kedua adalah proses
pengendapan, di mana alumina hidrat diendapkan dari
larutan natrium aluminat melalui
reaksi sesuai dengan persamaan berikut.
Al(OH)4- + Na+ .. Al(OH)3 + Na+ + OH- (5.2)
Pada dasarnya, reaksi ini adalah
kebalikan dari reaksi pada tahap pertama, di mana
alumina hidrat diendapkan secara
terkontrol melalui proses pembenihan (seeding atau
selective nucleation). Hasil dari
tahap ini berupa kristal alumina hidrat yang ukuran
kristalnya kemudian diseleksi dan
dimasukkan ke dalam dapur kalsinasi (rotary atau
fluidised bed). Kristal berukuran
terlalu kecil untuk di daur ulang ke awal proses.
Tahap ketiga
adalah proses kalsinasi, di mana molekul air dari alumina hidrat
diuapkan melalui proses
kalsinasi, sesuai dengan persamaan berikut.
Al(OH)3 .. Al2O3 + 3H2O (5.3)
Hasil akhir dari proses Bayer ini
adalah alumina murni, yang kemudian dikirim ke
proses Hall-Heroult untuk diolah
menjadi aluminium.
b. Proses Hall-Heroult
Pada prinsipnya, proses Hall-Heroult mengubah
alumina menjadi aluminium
murni melalui proses
elektrolisis, yang secara skematis digambarkan pada Gambar 5.3.
Alumina dilarutkan dalam
elektrolit lelehan kriolit (Na3AlF6) dan dimasukkan ke dalam
tangki elektrolisis (biasa
disebut "pot"), di mana terbuat dari baja yang dilapis dengan
grafit. Listrik bertegangan
rendah (4-5 V), tetapi dengan arus tinggi (50.000-280.000 A)
dialirkan ke dalam pot melalui
anoda karbon (positif), yang terbuat dari batu bara, dan
katoda karbon (negatif), yang
berupa lapisan grafit pada pot baja. Reaksi yang terjadi
adalah proses reduksi aluminium
di dalam larutan elektrolit menjadi aluminium murni
yang mengendap di katoda, sesuai
dengan persamaan berikut.
2Al2O3 + 3C .. 4Al + 3CO2 (5.4)
Aluminium yang
diendapkan di bagian bawah pot dihisap (shiponed-off) secara
berkala dan dibawa ke dapur
(holding furnace) untuk kemudian dicor ke dalam cetakan.
Biasanya sebuah pabrik aluminium
(disebut aluminium smelter) memiliki 300 buah pot
yang dapat memproduksi 125.000
ton aluminium setiap tahun (Gambar 5.4). Proses ini
memerlukan energi listrik yang
sangat besar, yaitu sekitar 15,7 kWh per kilogram
aluminium. Oleh karena itu,
lokasi pabrik biasanya berdekatan dengan pembangkit
listrik. PT Inalum merupakan
satu-satunya aluminium smelter primer di Indonesia, yang
berlokasi di Asahan, Sumatra
Utara, berdampingan dengan PLTA Sigura-gura sebagai
pemasok listriknya.
Berikut ini adalah dua jenis
aluminium yang dapat dihasilkan melalui proses
tersebut:
1. Commercial purity aluminium:
99,0 - 99,8% Al
2. Super purity aluminium: 99,99%
Al
Sistem Penamaan Aluminium Paduan
Berdasarkan
standar Aluminium Association (AA), paduan aluminium
diklasifikasikan menjadi dua
kelas utama, yaitu aluminium tuang (cast aluminium) dan
aluminium pengerjaan (wrought
aluminium). Penamaan kedua kelas aluminium tersebut
tergantung pada unsur paduan
utama yang dikandungnya.
sistem
penamaan untuk paduan aluminium tuang menggunakan sistem registrasi
dengan tiga angka, diurutkan
berdasarkan unsur paduannya, seperti yang ditunjukkan
pada Tabel 5.1. Tidak terdapat
sistem penamaan paduan aluminium pada seri 6XX dan
9XX. Angka pertama menunjukkan
kelompok paduan. Angka kedua dan ketiga
menunjukkan jenis spesifikasi
komposisi aluminium paduan tersebut. Sering kali, angka
keempat yang menunjukkan bentuk
produk diberikan, 0 untuk spesifikasi coran, 1 untuk
spesifikasi batangan, dan 2 untuk
spesifikasi batangan yang lebih sempit. Sebagai
contoh, XXX.0, mewakili batasan
komposisi kimia dari paduan hasil proses
pengecoran, sedangkan untuk XXX.1
dan XXX.2 mewakili batasan komposisi kimia
dari batangan.
Sistem
penamaan pada paduan aluminium hasil pengerjaan dilakukan dengan
registrasi empat angka, dengan
angka pertama menunjukkan unsur paduan utama pada
paduan aluminium tersebut,
seperti yang ditunjukkan pada Tabel 5.1. Pada seri 1XXX,
dua angka terakhir menunjukkan
jumlah kadar minimum aluminium pada paduan dalam
99,00%. Sementara, pada seri 2XXX
hingga 8XXX, dua angka terakhir menunjukkan
kandungan unsur paduan utama
aplikasi Paduan Aluminium
Paduan Aluminium untuk Transportasi
Untuk otomotif, aluminium banyak
dipakai sebagai bodi mobil dan mesin. Paduan
aluminium untuk mesin sebagian
besar adalah seri 3XX, Al-Si-Cu, yang memiliki
kemampuan cor sangat baik,
kekerasan yang tinggi dan, dapat dilaku panas. Untuk
aplikasi pesawat terbang, salah
satu paduan aluminium yang populer digunakan adalah
duralumin (Al - 4% Cu - 0,5% Mg -
0,5% Mn). Paduan ini memiliki kekerasan tinggi,
namun ketahanan korosinya rendah,
sehingga perlu dilapisi lagi dengan lembaran
aluminium murni, yang sering
disebut sebagai aluminium cladding. Duralumin adalah
material yang digunakan oleh
Wright bersaudara untuk membuat badan pesawat terbang
hasil temuannya. Sementara itu,
sebagian besar kereta ringan terbuat dari aluminium,
seperti halnya pada badan kapal
cepat (seacat), yang bertujuan untuk mengurangi berat
secara signifikan dan tahan
korosi,
Paduan Aluminium untuk Pembungkus
Aluminium murni untuk pembungkus
(packaging), dibuat dalam bentuk lembaran
tipis (foil). Sebagai kaleng
minuman, aluminium juga sangat populer (Gambar 5.5).
Aluminium yang dipakai untuk
tujuan ini biasanya dibuat dari seri 5XXX, Al-Mg, yang
relatif ulet, namun memiliki
kemampuan pengerasan regang yang tinggi.
Paduan Aluminium untuk Konstruksi
Paduan
aluminium yang tidak korosif menyebabkan pemakaiannya untuk aplikasi
konstruksi relatif yang tidak
memerlukan biaya perawatan. Aplikasi aluminium
bervariasi mulai dari rangka
jendela, rangka pintu, rangka atap, tirai, atap, dan lain-lain.
Sebagian besar aluminium
konstruksi terbuat dari seri 3XXX (Gambar 5.5)
5. 2. Tembaga
Karakteristik Tembaga
Tembaga merupakan logam yang
khusus dan sangat bermanfaat dalam kehidupan
sehari-hari.. Logam ini berbeda
dengan logam-logam lainnya, terutama dalam hal
konduktivitas listrik. Dalam
tingkatan volume yang sama, tembaga memiliki
konduktivitas listrik paling
tinggi jika dibandingkan dengan logam lain, kecuali perak
murni. Selain itu, tembaga juga
memiliki sifat yang baik dalam hal konduktivitas panas,
ketahanan korosi, pengubahan
bentuk, dan penyambungan. Namun demikian, di sisi
lain, tembaga dan paduannya
adalah logam yang memiliki kekuatan rendah. Beberapa
paduan tembaga juga rentan
terhadap korosi retak tegang, kecuali jika perlakuan lepas
tegang. Titik lebur tembaga
adalah 1.085 °C. Logam ini memiliki struktur kristal FCC,
dan sama sekali tidak tertarik
oleh magnet (bersifat diamagnetik).
Warna asli dari tembaga adalah
kemerahmudaan, tetapi kita lebih sering
melihatnya berwarna coklat dan
kehijauan dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut
karena keberadaan lapisan oksida
pada permukaannya. Serupa dengan aluminium,
tembaga dan paduannya akan
membentuk lapisan tipis CuO yang berwarna gelap jika
beraksi dengan oksigen. Lapisan
tersebut tahan terhadap korosi, sekaligus melindungi
bagian di bawahnya dari korosi
lebih lanjut. Seiring berjalannya waktu, warna tembaga
akan menjadi biru kehijauan
akibat terbentuknya lapisan tipis Cu2(OH)2CO3 hasil reaksi
dengan CO, di udara. Namun
demikian, pada kebanyakan lingkungan terutama pada
atmosfer biasa, tembaga dan
paduannya akan mengalami perubahan warna menjadi biru
kehijauan. Penambahan lapisan
pernis pada permukaan dapat membantu memelihara
warna asli tembaga dan paduannya.
Tembaga memiliki keuletan dan
kelunakan yang tinggi. Oleh karena itu, perlakuan
lain harus diberikan untuk
mendapatkan kekerasan tembaga. Sebagian besar paduan
tembaga tidak bisa dikeraskan
dengan perlakuan panas. Dengan demikian, pengerjaan
dingin dan pemaduan menjadi
pilihan yang mutlak untuk digunakan. Kelunakan yang
tinggi juga dapat membuat tembaga
sulit untuk dimesin.
Bijih tembaga
di alam terbagi menjadi tiga jenis, yaitu dalam bentuk sulfida,
oksida, atau karbonat. Contoh
bijih sulfida adalah kalkopirit (CuFeS2), bornit
(Cu5FeS4), kovelit (CuS),
kalkosit (Cu2S). Sementara itu, contoh bijih oksida adalah
kuprit (Cu2O). Bijih sulfida
diekstraksi dengan metode flotasi, sedangkan bijih oksida
umumnya diekstraksi dengan
menggunakan metode pelelehan.
Ilustrasi
proses pengolahan tembaga dari bijih sampai menjadi logam tembaga
ditunjukkan dalam Gambar 5.6.
Bijih tembaga yang berasal dari tambang diangkut dan
dimasukkan ke dalam penghancur
utama. Kemudian, bijih tersebut dihancurkan dan
diayak menjadi bijih tembaga
dengan ukuran ~0,5 mm. Bijih tembaga halus tersebut
kemudian dimasukkan ke dalam
tangki flotasi untuk memperoleh tembaga murni.
Bijih yang masih kasar akan
dilakukan proses pelelehan, di mana larutan asam sulfur
diberikan untuk melarutkan
tembaga. Selanjutnya, larutan yang mengandung tembaga
terlarut akan melalui proses
electrowining untuk memperoleh tembaga murni.
Sistem Penamaan Paduan Tembaga
Penamaan
paduan tembaga ditentukan melalui sistem penamaan UNS (Unified
Numbering System) yang dibuat
oleh ASTM (American Society of Testing Materials).
Sistem tersebut membagi paduan
tembaga menjadi dua golongan, yaitu tembaga
pengerjaan dan tembaga tuang.
Penamaan yang diberikan menggunakan lima digit dan
diawali dengan huruf C. Pembedaan
antara tembaga pengerjaan dan tembaga tuang
dapat dilihat dari digitnya.
Tembaga dengan nomor C10000 hingga C79999 merupakan
tembaga pengerjaan, sedangkan
nomor C80000 hingga C99999 merupakan tembaga
tuang
Aplikasi Tembaga dan Paduannya
Dari zaman
dahulu hingga sekarang, tembaga memainkan peranan besar dalam
kehidupan umat manusia. Figur 5.7
menunjukkan beberapa aplikasi tembaga. Zaman
dahulu, manusia menggunakan
tembaga sebagai senjata dan peralatan rumah tangga.
Kini, manusia lebih banyak
mengunakan tembaga untuk aplikasi elektronik, seperti
kabel, dinamo, radio, dan
televisi. Oleh karena tembaga adalah penghantar panas yang
baik, tembaga juga digunakan
sebagai radiator kendaraan bermotor, pendingin ruangan,
dan alat penghangat ruangan.
Ketahanan korosi yang dimiliki tembaga menjadikan
tembaga sebagai salah satu
material pilihan pada bidang konstruksi, khususnya untuk
pipa dan atap.
5. 3. Magnesium
Karakteristik Magnesium
Magnesium
merupakan logam rekayasa paling ringan di dunia. Dengan berat jenis
1.740 kg/m3, dalam satu volume
yang sama, berat magnesium hanya dua pertiga dari
aluminium atau seperempat kali
Baja. Selain itu, logam yang memiliki warna putih
keperakan ini adalah logam yang
sangat aktif secara kimia. Serbuk magnesium yang
berukuran halus dapat terbakar di
udara dan menghasilkan nyala putih. Pembakaran
terjadi akibat reaksi magnesium
dengan nitrogen atau karbon dioksida. Ketahanan
korosi magnesium pada atmosfer
biasa tergolong cukup baik, tetapi tidak cukup baik
pada atmosfer laut. Di udara yang
cukup lembab, magnesium akan membentuk lapisan
protektif magnesium karbonat
(MgCO3.Mg(OH)2) di bagian permukaannya. Pada suhu
ruang, magnesium merupakan logam
yang sulit diubah bentuknya. Oleh karena itu,
produk magnesium lebih banyak
dibuat dengan proses pengecoran atau proses
pengerjaan panas pada suhu
sekitar 200-350 °C.
Oleh karena
kereaktifannya di alam, magnesium hanya dapat ditemukan dalam
bentuk senyawanya. Persenyawaan
magnesium tersebut dapat berupa magnesit,
dolomit, dan magnesium
hidroksida. Magnesit atau MgCO3 merupakan persenyawaan
yang paling umum untuk
diekstraksi menjadi logam magnesium. Magnesit mengandung
47,8% magnesium oksida dan 52,2%
karbon dioksida. Akan tetapi, terkadang,
kalsium karbonat dan besi
karbonat juga terkandung dalam magnesium.
Proses Pengolahan Magnesium
Proses Silikotermik
Proses ini
juga dikenal sebagai Pidgeon, Magnetherm, atau Bolzano. Sebelum
proses silikotermik dilakukan,
bijih magnesium harus sudah diolah menjadi bentuk
konsentratnya. Selanjutnya,
konsentrat MgCO3 melalui proses kalsinasi hingga menjadi
magnesium oksida (MgO). Proses
silikotermik dilakukan dengan memberikan panas
secara terus menerus pada tekanan
gas yang rendah, dengan menggunakan ferrosilikon,
sehingga magnesium oksida cair
berkurang secara bertahap. Proses tersebut dilakukan
pada suhu sekitar 1.400 °C.
Secara umum, reaksi dari proses tersebut adalah sebagai
berikut.
Si(s) + MgO(s) .. SiO2(s) + Mg(g) (5.5)
Mg(g) .. Mg (liq, s) (5.6)
Magnesium yang terbentuk akan
menguap dan terkondensasi jauh dari daerah
yang panas. Magnesium
terkondensasi ini memiliki kemurnian sekitar 99,95%.
Selanjutnya, proses yang
tertinggal adalah melebur magnesium tersebut dan
membentuknya menjadi produk
melalui metode pengecoran.
Proses Elektrolitik
Sebelum proses
elektrolitik dilakukan, magnesium oksida harus diubah menjadi
magnesium klorida melalui proses
klorinasi atau disebut pula proses Farben.
Selanjutnya, magnesium klorida
akan dimasukkan ke dalam sel elektrolisis seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5.8. Pada
gambar tersebut, grafit bertindak sebagai anoda,
sedangkan Baja sebagai katodanya.
Elektrolit yang digunakan adalah alkalin klorida dan
magnesium klorida. Suhu yang
digunakan adalah 680-750 °C. Dalam kondisi ini,
magnesium klorida akan
terdekomposisi menjadi logam magnesium dan gas klorin
sesuai reaksi dalam persamaan
berikut.
MgCl2 .. Mg + Cl2(g) (5.7)
Magnesium yang terbentuk pada
katoda akan terangkat ke atas permukaan
(lebih ringan dari elektrolit)
dan ditampung pada ruang penampungan katoda.
Sementara, gas klorin yang
dihasilkan di anoda akan ditampung pada ruang
penampungan anoda.
Sistem Penamaan Magnesium
Sistem
penamaan magnesium yang umum dibuat oleh ASTM. Sistem ini
menggunakan kombinasi huruf dan
angka untuk mengidentifikasi jenis paduan yang ada
pada paduan tersebut. Dua huruf
pertama menandakan unsur paduan utama dengan kode
yang sudah ditetapkan. Kode huruf
penanda unsur paduan magnesium dapat dilihat
pada Tabel 5.4. Dua huruf tadi
kemudian diikuti oleh dua angka. Dua angka tersebut
mengindikasikan kandungan
unsur-unsur paduan yang dikodekan pada dua huruf
sebelumnya. Huruf kelima
merupakan penjelasan modifikasinya. Tanda "setrip"
diberikan setelah huruf kelima,
kemudian, dilanjutkan dengan kode yang sesuai dengan
jenis perlakuan panas yang
dialami paduan tersebut. Kode perlakuan panas pada paduan
magnesium dapat dilihat pada
Tabel 5.5. Untuk lebih jelasnya, ambil contoh paduan
ZE63A-T6. Paduan magnesium ini
mengandung paduan utama seng sebesar 6% dan
logam tanah jarang sebesar 3%.
Selanjutnya, simbol A merupakan modifikasi
paduannya, sedangkan T6
menandakan bahwa paduan telah mengalami perlakuan T6.
Aplikasi Magnesium dan Paduannya
Magnesium
adalah logam yang relatif mahal sehingga logam ini lebih jarang
digunakan untuk material
konstruksi jika dibandingkan dengan aluminium dan baja.
Namun demikian, untuk
aplikasi-aplikasi tertentu, pemakaian magnesium lebih disukai.
Aplikasi-aplikasi magnesium dapat
dilihat pada Gambar 5.9. Dalam memproduksi baja,
logam non-fero, kaca, dan semen,
magnesium oksida (MgO) sering digunakan sebagai
material refraktori yang tahan
suhu tinggi. Magnesium juga sering digunakan bersama
aluminium sebagai material paduan
untuk membuat kaleng minuman. Selain itu,
magnesium juga dipakai sebagai
anoda korban untuk melindungi pipa, tangki, dan
struktur-struktur yang terkubur
di bawah tanah. Dalam bidang militer, penyala api yang
terbuat dari magnesium dapat digunakan
untuk membuat api pada kondisi bertahan
hidup (survival).
5. 4. Titanium
Karakteristik Titanium
Dalam keadaan
murni, titanium adalah logam yang cerah dan berwarna putih.
Logam ini adalah logam yang
ringan. Berat titanium 40% lebih ringan daripada baja dan
60% lebih berat dari aluminium.
Titanium juga memiliki ketahanan korosi yang baik.
Ketahanan korosi yang baik
disebabkan karena kemampuan logam ini untuk
membentuk lapisan pasif di
permukaannya, yang mencegah korosi lebih lanjut.
Ketahanan yang baik juga
ditunjukkan titanium terhadap sulfur, larutan klorin, gas
klorin, dan berbagai asam
organik.
Titanium merupakan logam yang kuat.
Dalam keadaan murni, kekuatan luluhnya
bisa mencapai 241 MPa dengan
elongasi sebesar 55%. Titik lebur logam ini adalah
1.677 °C. Selain itu, titanium
bukanlah penghantar listrik yang baik, jika dibandingkan
dengan tembaga, daya hantar
listrik titanium hanya 3,1%-nya saja. Sifat kemagnetan
titanium juga kurang baik
sehingga logam ini digolongkan sebagai logam para-
magnetik.
Dalam bidang pengelasan, titanium
tergolong sulit untuk dilas sebab pada suhu
yang tinggi, titanium rentan
terhadap hidrogen, oksigen, dan nitrogen yang dapat
menyebabkan penggetasan. Untuk
itu, pengelasan titanium membutuhkan perlakuan-
perlakuan khusus yang dapat
mencegah difusi gas-gas tadi.
Proses Pembuatan Titanium
Titanium
menempati urutan kesembilan dalam hal ketersediaan bijihnya di alam.
Bijih titanium yang digunakan
untuk memproduksi titanium adalah rutile (TiO2) atau
titanium dioksida dan ilmenit
(FeTiO3). Logam titanium diproduksi dengan
menggunakan proses Kroll yang
dikembangkan oleh seorang ahli metalurgi asal
Jerman, William Justin Kroll,
pada tahun 1946. Proses tersebut melibatkan konsentrasi
atau pemisahan titanium dioksida
dari pengotornya termasuk besi oksida. Selanjutnya,
titanium dioksida dimasukkan ke
dalam reaktor tangki bersama dengan klorin dan batu
bara pada suhu sekitar 900 °C.
Hasil dari proses ini adalah titanium tetraklorida sesuai
reaksi dalam persamaan berikut.
TiO2 + Cl2 + C .. TiC14 + CO2 (5.8)
Setelah proses ini, pemurnian
kembali dilakukan dengan menggunakan distilasi
dan pengendapan untuk memisahkan
pengotor dari titanium tetraklorida. Kemudian,
ekstraksi titanium dilakukan
dengan mereaksikan titanium tetraklorida dengan
magnesium pada sebuah tabung baja
tahan karat, bersuhu 1.100 °C di bawah atmosfer
argon sesuai reaksi dalam
persamaan berikut.
TiC14 + 2Mg .. Ti + 2MgC12 (5.9)
Hasil proses ini adalah logam
titanium padat perbentuk spons dan magnesium
klorida yang berwujud cair.
Selanjutnya, logam titanium berbentuk spons tadi dilebur
pada dapur yang vakum dan dicetak
menjadi batangan
Jenis-Jenis Paduan Titanium
Titanium murni dapat berstruktur
heksagonal yang tersusun padat (HCP) dan
dapat pula berstruktur kubus
pemusatan ruang (BCC). Pada suhu di bawah 883 °C,
titanium akan berstruktur HCP
atau biasa disebut a-titanium, sedangkan pada suhu di
atas 883 °C, titanium akan
berstruktur BCC atau biasa disebut ß-titanium. Penambahan
unsur paduan pada titanium
diketahui dapat menstabilkan fase a atau ß. Aluminium,
gallium, nitrogen, dan oksigen
merupakan unsur paduan penstabil fase a. Molibdenum,
vanadium, tungsten, tantalum, dan
silikon merupakan penstabil fase ß.
Berdasarkan komposisi fasenya,
titanium diklasifikasikan menjadi empat
kelompok, sebagai berikut.
1. Titanium murni dan paduan
rendah
2. Paduan alfa
3. Paduan alfa-beta
4. Paduan beta
Titanium murni dan paduan rendah
memiliki fase alfa yang dominan dan fase beta
berbentuk bulat yang tersebar
merata di matriks alfa. Selain itu, terdapat pula unsur besi
yang berlaku sebagai penstabil
fase beta. Titanium murni memiliki kekuatan yang relatif
rendah dan ketahanan korosi yang
baik.
Paduan alfa
memiliki unsur paduan aluminium dan timah. Paduan alfa secara
umum memiliki ketahanan mulur dan
ketangguhan yang baik. Paduan ini lebih dipilih
untuk aplikasi pada suhu tinggi.
Kemampuan las paduan alfa sangat baik, tetapi
kemampuan tempanya lebih buruk
jika dibandingkan dengan paduan beta. Sifat ini
membuat paduan alfa rentan
terhadap cacat-cacat penempaan. Namun demikian,
pengurangan reduksi tempa dan
pemanasan berulang dapat mengurangi masalah
tersebut. Paduan alfa tidak dapat
dikuatkan melalui perlakuan panas.
Paduan
alfa-beta mengandung 4-6% paduan penstabil fase beta. Oleh karena itu,
fase paduan ini akan terdiri atas
fase campuran alfa dan beta. Fase beta pada paduan ini
berkisar antara 10-50%. Paduan
alfa-beta merupakan paduan yang dapat dilaku panas.
Perlakuan panas dilakukan untuk
mengontrol jumlah dan morfologi fase beta. Oleh
karena itu, paduan ini memiliki
kekuatan yang tinggi dan kemampuan pengubahan
bentuk pada kondisi panas yang
baik. Ketahanan mulur paduan ini lebih rendah jika
dibandingkan dengan paduan alfa.
Paduan beta
mengandung sejumlah unsur paduan, seperti vanadium, niobium, dan
molibdenum yang berfungsi sebagai
penstabil fase beta. Kemampuan tempa paduan ini
sangat baik pada berbagai suhu
jika dibandingkan dengan paduan alfa.
Kemampukerasan paduan ini sangat
baik dan mudah diberikan perlakuan panas.
Perlakuan panas berupa perlakuan
pelarutan diikuti dengan penuaan, dapat membentuk
fase alfa yang halus dan tersebar
merata pada fase beta. Oleh karena itu, paduan ini
sangat kuat, tetapi keuletan dan
ketahanan fatiknya rendah.
Sistem penamaan titanium dibuat
berdasarkan komposisinya. Sebagai contoh,
paduan Ti-5A1-2,5Sn yang memiliki
unsur paduan berupa 5% aluminium dan 2,5%
timah. Contoh lainnya adalah
Ti-6A1-4V yang memiliki unsur paduan berupa 6%
aluminium dan 4% vanadium.
Aplikasi Titanium dan Paduannya
Paduan
titanium dipilih karena kekuatan, ketahanan fatik, dan ketahanan mulurnya
yang sangat baik daripada logam-logam
lainnya. Aplikasi titanium dan paduannya dapat
dilihat pada Gambar 5.10.
Aplikasi titanium yang paling penting adalah aplikasi pada
industri penerbangan. Banyak
komponen pesawat jet yang menggunakan titanium,
misalnya, baling-baling mesin,
penutup mesin, rangka pesawat, kompresor, dan lain-
lain. Titanium juga banyak
dipakai untuk instalasi perminyakan lepas pantai, seperti
pipa, penukar panas (heat
exchanger), kondensor, dan komponen-komponen struktural.
Dalam dunia kesehatan, titanium
dipakai untuk membuat kursi roda, alat bantu dengar,
katup jantung, pompa insulin, dan
penyambung tulang. Titanium juga banyak
digunakan pada bidang olahraga,
seperti sepeda, raket tenis, pemukul golf, dan pedang
anggar.
5. 5. Logam Refraktori
Refraktori merupakan material
yang mampu bertahan, serta tidak mengalami
pelunakan dan deformasi pada suhu
yang sangat tinggi. Material refraktori yang paling umum
adalah keramik. Keramik mampu
bertahan pada suhu yang sangat tinggi, lebih dari 1.580 °C.
Tidak hanya keramik yang memiliki
ketahanan terhadap suhu tinggi, beberapa logam pun
memiliki karekteristik seperti
itu. Logam-logam yang demikian disebut logam refraktori.
Logam
refraktori adalah logam yang mampu mempertahankan kekuatannya pada suhu
tinggi. Logam ini memiliki titik
lebur yang tinggi sehingga cocok untuk aplikasiaplikasi yang
dioperasikan pada lingkungan
bersuhu tinggi. Aplikasi-aplikasi tersebut dapat dilihat pada
Gambar 5.11. Kelemahan logam
refraktori adalah ketahanan korosi dan oksidasi logamnya
cukup buruk. Namun demikian,
pemberian lapisan protektif (coating) dapat memperbaiki
ketahanan korosi dan oksidasi
logam ini. Logam-logam yang tergolong sebagai logam
refraktori adalah niobium,
tantalum, molibdenum, tungsten, dan renium. Dalam definisi yang
lebih luas, titanium, vanadium,
kromium, zirkonium, dan hafnium juga dapat digolongkan
sebagai logam refraktor
Gambar 5.11 Aplikasi-aplikasi
logam refraktori. (a) Pesawat luar angkasa menggunakan paduan Nb-
10W-10Hf-0,1Y terutama pada
bagian moncongnya; (b) filamen bola lampu yang terbuat
dari tantalum, memiliki suhu 400
°C lebih rendah daripada filamen tungsten, (c) mur dan
baut untuk aplikasi pada
lingkungan bersuhu tinggi yang terbuat dari tantalum; (d)
termokopel yang terbuat dari
paduan tungsten dan renium; (e) elemen pemanas untuk
dapur yang terbuat dari
molibdenum disilikat, MoSi2
Niobium
Niobium dalam
keadaan murni merupakan logam yang ulet dan mudah
difabrikasi pada suhu ruang.
Titik lebur logam ini adalah 2.468 °C. Niobium dapat
membentuk lapisan oksida pada
hampir semua lingkungan asam. Lapisan ini
memberikan ketahanan korosi yang
baik, khususnya terhadap asam nitrat dan
hidroklorat. Pada suhu yang
tinggi, logam ini bereaksi dengan halogen, oksigen,
nitrogen, karbon, hidrogen, dan
sulfur. Reaksi tersebut membentuk senyawa yang
memiliki titik lebur sangat
tinggi, terutama jika bereaksi dengan karbon, boron,
silikon, dan nitrogen.
Kebanyakan niobium
ditemukan bersama dengan tantalum. Bijih niobium yang
sering ditemukan adalah
columbite, niobite-tantalite, pyrochlore, dan euxenite. Namun
demikian, jumlah bijih niobium
yang paling banyak ditemukan adalah pyrochlore.
Proses ekstraksi niobium melibatkan
proses klorinasi, diikuti dengan proses destilasi
dan hidrolisis, hingga dihasilkan
bentuk oksida dari niobium. Niobium kemudian
diekstrak melalui reaksi
aluminotermik sesuai reaksi dalam persamaan berikut:
3Nb2O5 + 10Al .. 6Nb + 5Al2O3 (5.10)
Selama reaksi ini, oksida akan
terpisah dari niobium cair dan menjadi terak.
Penggunaan
niobium lebih banyak pada aplikasi yang membutuhkan ketahanan
suhu tinggi, seperti komponen
pesawat luar angkasa dan roket. Paduan Nb-10W-10Hf-
0,1Y digunakan untuk kendaraan
luar angkasa yang membutuhkan ketahanan suhu
tinggi ketika melintasi atmosfer
bumi. Selain itu, paduan ini juga dipakai untuk pesawat
supersonik, serta bagian moncong
rudal dan roket. Seri yang digunakan untuk
komponen nuklir adalah paduan
Nb-1Zr, di mana memiliki ketahanan korosi dan
ketahanan radiasi yang baik.
Paduan ini juga digunakan dalam komponen lampu uap
magnesium.
Tantalum
Dengan berat
jenis sebesar 16,6 g/cm3, tantalum termasuk ke dalam logam yang
berat. Titik lebur logam ini
mencapai 2.996 °C. Selain itu, logam ini mempunyai
keuletan, ketangguhan, dan
konduktivitas termal yang sangat baik. Ketahanan korosi
logam ini sangat baik, khususnya
terhadap lingkungan asam, senyawa organik, dan
larutan garam. Namun demikian,
tantalum dapat terdegradasi oleh asam hidroflourat,
alkali kuat, bromin yang
tercampur methanol, dan uap asam sulfat.
Logam tantalum umumnya berasal
dari bijih tantalite (FeO.Ta2O5). Proses
ekstraksi biasanya diawali dengan
memisahkan bijih dari pengotor dan melakukan
pengendapan hidroksidanya. Proses
dilanjutkan dengan melakukan kalsinasi untuk
membentuk tantalum pentaoksida
atau melakukan kristalisasi dengan potasium flourida
(KF) hingga terbentuk potasium
flourotantalat (K2TaF7). Potasium flourotantalat yang
terbentuk kemudian direduksi
dengan lelehan sodium hingga dihasilkan serbuk
tantalum. Serbuk tantalum yang
terbentuk dapat dimurnikan dengan proses peleburan
sinar elektron hingga memperoleh
kemurnian lebih dari 99,95%.
Tantalum dapat
digunakan untuk filamen bola lampu. Filamen tantalum akan
berpijar pada suhu 1.700 °C,
lebih rendah 400 °C dari filamen tungsten. Hal tersebut
menjadikan bola lampu tantalum
lebih unggul daripada bola lampu tungsten. Paduan
Ta-10W biasa diaplikasikan pada
komponen-komponen pesawat luar angkasa, seperti
katup gas, mesin roket, dan baut
pengencang. Dalam bidang kedokteran, tantalum
banyak dipakai untuk peralatan
bedah dan peralatan kimia yang tahan terhadap zat
asam. Tantalum juga dapat
dimanfaatkan sebagai kapasitor yang diaplikasikan pada
telepon seluler dan peralatan
elektronik lain.
Molibdenum
Molibdenum
merupakan logam berwarna putih keperakan yang ulet dan lebih
lunak daripada tungsten. Logam
ini memiliki titik lebur 2.621 °C dan berat jenis 10,2
g/cm3. Penguatan yang bisa
dilakukan pada logam ini adalah dengan pengerasan regang
saja, tidak bisa dengan perlakuan
panas. Pada suhu ruang, molibdenum tidak bereaksi
dengan oksigen dan air. Namun
demikian, pada suhu tinggi, molibdenum bereaksi
dengan oksigen membentuk
molibdenum trioksida. Ekspansi panas yang dimiliki
molibdenum paling kecil jika
dibandingkan dengan logam komersial lainnya,
sedangkan konduktivitas panasnya
dua kali lipat besi.
Bijih
molibdenum yang paling banyak diolah menjadi molibdenum adalah
molibdenum disulfida (MoS2).
Bijih tersebut mengandung kurang lebih 60%
molibdenum. Proses produksi
molibdenum diawali dengan pembakaran molibdenum
disulfida pada suhu 700 °C hingga
teroksidasi menjadi molybdenum (VI) oksida
(MoO3). Oksida molibdenum
tersebut kemudian diekstraksi menjadi serbuk
molibdenum melalui proses reduksi
dengan hidrogen.
Aplikasi
molibdenum antara lain untuk unsur paduan pada baja dan besi tuang
untuk meningkatkan kemampukerasan,
ketangguhan, kekuatan, ketahanan mulur, dan
ketahanan korosi. Molibdenum juga
digunakan sebagai bahan dasar katoda yang dipakai
pada radar. Di bidang industri,
molibdenum dipakai untuk inti pada pengecoran dengan
cetakan logam dan sebagai elemen
pemanas pada dapur listrik. Industri nuklir, kimia,
kaca, rudal, dan pesawat terbang
juga banyak menggunakan molibdenum sebagai bahan
dasarnya.
Tungsten
Tungsten
merupakan logam berwarna putih keabu-abuan yang memiliki berat
jenis 19,6 g/cm. Titik lebur yang
mencapai 3.410 °C menjadikan tungsten sebagai
logam dengan titik lebur
tertinggi di antara logam-logam lainnya. Pada suhu ruang,
tungsten tahan terhadap banyak
zat kimia, tetapi tungsten dapat larut dalam larutan
asam nitrat dan asam
hidroflourat. Pada suhu yang lebih tinggi, kecenderungan
tungsten untuk terserang lebih
besar. Pada suhu lebih dari 250 °C, tungsten bereaksi
dengan cepat terhadap asam fosfat
dan klorin. Tungsen akan teroksidasi di atas suhu
500 °C. Tungsten mulai bereaksi
dengan banyak gas pada suhu 1.000 °C, sedangkan
pada suhu lebih dari 1.000 °C,
tungsten mulai bereaksi dengan logam-logam lain3
Wolframite atau (FeMn)WO3 adalah
bijih tungsten yang paling utama. Proses
pengolahan bijih tungsten melalui
beberapa tahap. Tahap awal yang paling penting
adalah mengubah bijih tungsten
menjadi bentuk oksidanya, WO3. Kemudian, oksida
tersebut dipanaskan bersama
hidrogen atau karbon agar menjadi serbuk tungsten.
Serbuk tersebut selanjutnya dapat
diolah dengan metalurgi serbuk menjadi produk
padat.
Tungsten
diaplikasikan untuk alat potong dan berbagai aplikasi yang
membutuhkan ketahanan aus. Dengan
mengombinasikan tungsten bersama kobalt
sebagai pengikat, tungsten dapat
dibentuk menjadi karbida sementit yang tahan aus.
Dalam bentuk kawatnya, tungsten
dapat dipakai untuk bohlam, peralatan elektronik, dan
alat pengukur suhu termokopel.
Beberapa jenis paduan super juga memanfaatkan
tungsten sebagai paduannya,
seperti Hastelloy dan Stellite yang dipakai pada baling-
baling turbin.
Renium
Renium
merupakan logam dasar yang banyak terdapat pada beberapa jenis
mineral, tetapi dalam jumlah yang
sangat sedikit. Logam ini memiliki berat jenis 21,4
g/cm3, atau hampir dua kali lebih
berat daripada timbal. Titik lebur logam ini mencapai
3.180 °C. Logam yang berwarna
putih keperakan ini adalah logam yang cukup keras.
Perbedaan logam ini dengan
logam-logam refraktori lainnya adalah renium tidak dapat
membentuk karbida. Ketahanan
kimia renium tergolong baik, sebab tahan terhadap
asam sulfat dan asam hidroklorat,
tetapi tidak pada asam nitrat. Renium juga tahan
terhadap timah, seng, perak,
tembaga, dan aluminium cair.
Sumber renium
yang umum adalah asam perrhenik (HreO4) dan amonium
perrhenat (NH4ReO4). Sumber yang
lebih sering diolah menjadi logam renium adalah
amonium perrhenat. Amonium
perrhenat diubah menjadi serbuk renium melalui proses
reduksi hidrogen. Reduksi
hidrogen tersebut dilakukan pada 380 °C sesuai dengan
persamaan berikut:
2NH4ReO4 + 7 H2 .. 2Re + 8 H2O + 2 NH3 (5.11)
Proses
dilanjutkan dengan pemurnian dan siklus reduksi pada suhu sekitar 700-
800 °C, untuk menghilangkan sisa
renium oksida yang masih tersisa. Pembentukan
serbuk menjadi logam padat
biasanya dilakukan dengan penekanan dingin yang
dilanjutkan dengan proses
sintering.
Hasil proses
sintering dapat dicapai dengan penganilan berulang hingga mampu
dibentuk menjadi berbagai bentuk
produk. Renium banyak dipasarkan dalam bentuk
batangan, balok, lembaran, dan
kawat. Paduan tungsten-renium merupakan paduan yang
sering digunakan sebagai
termokopel. Paduan super yang ditambahkan pada renium
merupakan material untuk membuat
komponen mesin pesawat jet.
5. 6. Paduan Super
Paduan super
merupakan suatu paduan yang memiliki kekuatan dan ketahanan
mulur yang sangat baik pada suhu
tinggi. Di samping kuat, paduan super juga harus
memiliki ketangguhan yang baik.
Selain itu, paduan super juga harus memiliki
kestabilan permukaan serta
ketahanan yang baik terhadap korosi, oksidasi, karburisasi,
dan sulfidisasi pada suhu tinggi.
Paduan yang digunakan untuk paduan super adalah
besi, kobalt, nikel, krom, serta
sejumlah tungsten, molibdenum, tantalum, titanium, dan
aluminium. Aplikasi-aplikasi dari
paduan super dapat dilihat pada Gambar 5.12
Gambar 5.12 Aplikasi paduan
super. (a) Baling-baling turbin untuk pesawat, (b) pipa-pipa yang
digunakan di laut, (c) sistem
pembuangan pada mobil Formula 1, dan (d) komponen-komponen
reaktor nuklir.
Berdasarkan unsur paduan
dominannya, paduan super digolongkan menjadi tiga,
sebagai berikut:
1. Paduan super berbasis Nikel
2. Paduan super berbasis Kobalt
3. Paduan super berbasis besi
Paduan Super Berbasis Nikel
Paduan super
berbasis nikel didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah nikel. Paduan
ini mengandung 10-20% Cr; 5-10% Co; 8%
maksimum Al dan Ti, serta dalam
jumlah kecil B, Zr, dan C. Terkadang, unsur-unsur
Mo, W, Ta, Hf, Fe, dan Nb sering
juga ditambahkan. Kromium merupakan unsur yang
membuat paduan super ini tahan
terhadap oksidasi. Unsur B dan Zr ditambahkan
sebagai unsur penguat batas butir
yang mampu bersegregasi ke batas butir dan
menguatkannya terutama pada suhu
yang tinggi. Pada suhu tinggi, kegagalan pada
logam lebih dikarenakan luncuran
di batas butir (grain boundary sliding). Oleh karena
itu, B dan Zr akan mampu
meningkatkan ketahanan mulur dan keuletan paduan super.
Selain itu, unsur C, Cr, Mo, W,
C, Nb, Ta, Ti, dan Hf mampu membentuk karbida yang
akan mengendap di batas butir.
Unsur-unsur Co, Fe, Cr, Nb, Ta, Mo, W, V, Ti, dan Al
juga dapat bertindak sebagai
penguat larutan padat.
Titanium dan
aluminium memiliki peranan yang penting pada paduan super
berbasis nikel. Unsur tersebut
menstabilkan fase gamma-aksen (.'), sedangkan unsur
Co, Cr, Mo, dan W merupakan
penstabil fase gamma (.). Fase . merupakan fase Al atau
Ni, sedangkan fase .' memiliki
rumus kimia Ni3A1, Ni3Ti, atau Ni3(A1,Ti). Fase
tersebut dapat membentuk endapan
yang stabil dan merata pada matriks. Fase tersebut
cukup ulet. Dengan demikian, di
samping menguatkan matriks, fase ini tidak
menurunkan nilai ketangguhan
retaknya. Kekuatan logam biasanya menurun seiring
meningkatnya suhu karena pada
suhu yang tinggi dislokasi akan mudah untuk bergerak.
Akan tetapi, tidak demikian untuk
paduan super berbasis nikel yang mengandung .',
paduan ini tahan terhadap suhu
yang tinggi.
Kebanyakan paduan super berbasis
nikel digunakan untuk aplikasi turbin yang
membutuhkan ketahanan pada suhu tinggi.
Paduan nimonic yang mengandung 75%
nikel; 21% kromium; 2,5%
titanium; 0,7% besi; 0,6% aluminium; dan 0,5% karbon
merupakan paduan super yang
digunakan untuk membuat baling-baling turbin.
Waspaloy yang
mengadung 55% nikel; 20% kromium; 13% kobalt; 4%
molibdenum; dan 5% besi juga
merupakan material untuk membuat baling-baling dan
piringan turbin. Inconel juga
tergolong paduan super berbasis nikel yang digunakan untuk
sistem pembuangan mobil balap
Formula 1 dan juga tempat pembakaran sisa
pembuangan pada boiler.
Inconel adalah
merek dagang terdaftar dari perusahaan logam khusus yang
mengacu pada kelompok austenitik
nikel-kromium berbasis superalloy. Paduan
Inconel biasanya digunakan dalam
aplikasi suhu tinggi.. Material ini sering disebut
dalam bahasa inggris sebagai
"Inco" (atau kadang-kadang "Iconel"). Nama dagang
umum untuk Inconel meliputi:.
Inconel 625, 625 Chronin, Altemp 625, Haynes 625,
625 dan Nickelvac Nicrofer 6020.
Paduan Inconel pertama kali
dikembangkan pada tahun 1940-an oleh tim
penelitian di Wiggin Pekerjaan di
Hereford, Inggris, dalam mendukung pengembangan
mesin jet Whittle.
Paduan super berbasis Kobalt
Paduan super
berbasis kobalt didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah kobalt. Paduan
super berbasis kobalt mengandung 10-30%
Ni; 25% Cr; 15% W, serta berbagai
unsur dalam jumlah kecil, seperti Mo, Nb, Ta,
Ti, La, dan Fe. Penguatan yang
terjadi pada paduan ini adalah penguatan larutan
padat dan penguatan oleh karbida.
Paduan yang penguatan dominannya adalah
penguatan karbida biasanya
mengandung karbon sekitar 0,4-0,85 %. Paduan yang
penguatannya adalah penguatan
larutan padat dibagi menjadi tiga, yaitu paduan yang
digunakan pada (1) suhu sekitar
650-1.150°C, (2) suhu ±650°C, dan (3) paduan yang
tahan aus. Pada kenyataannya,
tidak ada paduan super yang penguatan larutan padat
dapat dikatakan 100% (sempurna),
tetapi terdapat fase kedua berupa karbida atau
intermetalik pada paduan
tersebut.
Pengerasan
dengan karbida menjadi keharusan pada paduan super berbasis kobalt
untuk mendapatkan sifat mekanik
yang lebih baik. Untuk itu, kadar karbon biasanya
ditinggikan. Karbida yang
terbentuk merupakan persenyawaan karbon dengan logam,
seperti Cr, W, V, dan sebagainya.
Pada paduan super berbasis kobalt, hasil pengecoran
yang mengandung 0,4 %C biasanya
terdapat karbida Cr23C6, Cr3C2, MC, atau M6C.
Perbandingan jumlah kromium dan
karbon menentukan jenis karbida kromium yang
terbentuk. Bentuk karbida pun
dapat dimodifikasi menjadi bentuk yang bulat, panjang,
dan terpisah. Suhu penuaan dan
pendinginan yang dilakukan memainkan peranan
penting terhadap distribusi dan
bentuk dari karbida tersebut.
Paduan super
berbasis kobalt dapat dianil atau anil pelepasan tegangan, tetapi
jarang yang dilakukan perlakuan
pelarutan sebab pada paduan jenis ini tidak terdapat
fase .' seperti yang terdapat
pada paduan super berbasis kobalt. Perlakuan panas
penuaan mungkin dilakukan, tetapi
tujuannya adalah untuk memodifikasi distribusi dari
karbida. Untuk paduan super
berbasis kobalt, hasil pengerjaan, anil, dan pelepasan
tegangan sangat dianjurkan untuk
menghilangkan tegangan sisa hasil proses fabrikasi.
Anil pada paduan super berbasis
kobalt hasil pengecoran sangat tidak dianjurkan sebab
akan terbentuk karbida yang kasar
pada saat pendinginan setelah anil.
UMCo-50
merupakan salah satu contoh merek dagang paduan super berbasis
kobalt yang sering digunakan
untuk komponen-komponen dapur pembakaran. MP-35N
dan MP-159 digunakan untuk baut
yang dipakai untuk aplikasi-aplikasi pada suhu
tinggi. Haynes 25 adalah paduan
super berbasis kobalt yang terkenal dan digunakan
untuk bagian turbin gas, reaktor
nuklir, dan baut khusus.
Paduan super berbasis Besi
Paduan super
berbasis besi didefinisikan sebagai paduan super yang unsur
dominannya adalah besi. Penguatan
pada jenis paduan super ini adalah dengan larutan
padat, pengendapan intermetalik,
dan pengendapan karbida. Beberapa unsur
ditambahkan pada paduan ini untuk
menciptakan sifat yang diinginkan. Oleh karena
struktur kristal paduan ini
dominannya adalah FCC, beberapa unsur, seperti nikel,
aluminium, titanium, dan niobium
dapat ditambahkan sebagai penguat. Karbon
ditambahkan sekitar 0,5% untuk
membentuk endapan karbida. Terkadang, nitrogen dan
fosfor juga ditambahkan untuk
mempertinggi pengaruhnya. Karbida yang terbentuk
dapat juga bertindak sebagai
penguat batas butir. Ketahanan oksidasi pada paduan super
berbasis besi diberikan melalui
penambahan kromium, nikel, dan mangan. Penambahan
boron sangat membantu
meningkatkan sifat pada suhu tinggi. Semua paduan super
berbasis besi pada penggunaan
suhu tinggi berstruktur FCC, sebab struktur FCC lebih
tahan terhadap mulur.
Paduan super
berbasis besi umumnya jarang dilakukan pelepasan tegangan.
Paduan yang diberikan pengerjaan
panas atau dingin biasanya membutuhkan pelepasan
tegangan untuk menghilangkan
tegangan sisa dan meningkatkan keuletan. Namun
demikian, pelepasan tegangan pada
paduan tersebut tidak dapat dilakukan jika
ketahanan korosi yang tinggi juga
dibutuhkan. Oleh karena suhu pelepasan tegangan
yang dianjurkan biasanya berada
di antara rentang suhu sensitasi, anil lebih disarankan
untuk dilakukan. Beberapa paduan
j uga tidak bisa dilakukan pelepasan tegangan karena
masalah pada endapannya.
Paduan super
berbasis besi yang mengandung titanium dan aluminium umumnya
mengalami penguatan endapan fase
.'. Fase .' tergolong pada fase yang metastabil
karena dapat berubah menjadi fase
. (Ni3Ti) jika rasio aluminium dan titanium terlalu
rendah. Perlakuan panas yang
diberikan pada paduan tersebut adalah perlakuan
pelarutan diikuti dengan penuaan.
Perlakuan pelarutan dan penuaan yang diberikan pada
paduan tersebut berbeda-beda,
bergantung pada pengerjaan dingin yang telah dilakukan
pada paduan tersebut.
Beberapa
contoh paduan super berbasis besi, seperti paduan A-268, Incoloy 901,
INCO 718, INCO 901, dan Multimet.
Sama seperti paduan super jenis lain, paduan-
paduan super tersebut umumnya
digunakan untuk aplikasi-aplikasi pada suhu tinggi,
seperti turbin, roket, reaktor
nuklir, dan lain-lain.
5. 7. Logam Mulia
Logam mulia
merupakan logam berharga yang biasa digunakan untuk membuat
koin, perhiasan, dan
ornamen-ornamen khusus. Logam yang tergolong sebagai logam
mulia adalah emas, perak, serta
golongan platina, seperti rutenium, rodium,
paladium, osmium, iridium, dan
platina. Logam tersebut diberi nama logam mulia
karena tidak mudah terdegradasi
dan memiliki kilauan yang khas. Logam tersebut
juga lebih ulet dan memiliki
titik lebur lebih tinggi daripada logam-logam lainnya.
Pada bagian ini, logam mulia yang
akan dibahas hanya emas, perak, dan platina
karena merupakan logam mulia yang
paling umum.
Emas
Karekteristik Emas
Emas merupakan
logam lunak yang berwarna kuning, yang sudah terkenal sebagai
logam berharga sejak zaman
dahulu. Logam ini merupakan logam yang nonreaktif
secara kimia, yang dapat langsung
ditemukan di alam dalam bentuk logamnya. Berat
jenis emas mencapai 19,3 g/cm3,
sedangkan titik leburnya mencapai 1.064,18 °C. Jika
dibandingkan dengan logam murni
lainnya, emas merupakan logam murni yang paling
ulet dan mudah ditempa. Satu gram
emas dapat dibentuk menjadi lembaran dengan luas
0,6 meter persegi. Emas yang
sudah dicetak memiliki kekuatan tarik sebesar 137 MPa.
Emas juga merupakan konduktor
panas dan listrik yang baik, serta mampu menepis
radiasi infra merah.
Kemurnian emas
dinyatakan dengan satuan karat. Emas murni memiliki nilai
sebesar 24 karat. Emas merupakan
logam yang tahan terhadap korosi dan zat-zat kimia,
tetapi tidak semua zat kimia.
Halogen bebas dapat bereaksi dengan emas, sedangkan
aqua regia melarutkan emas dengan
cara membentuk gas klorin yang dapat menyerang
emas hingga membentuk ion
kloraurat. Emas juga larut dalam larutan alkali seperti
potasium sianida dan dalam
merkuri membentuk amalgamasi emas-merkuri.
Proses Pengolahan Emas
Di alam, emas
sudah ada dalam wujud logamnya, tidak berikatan dengan unsur
lain. Namun demikian, bijih emas
yang ditemukan di alam biasanya mengandung
berbagai material, yang dikenal
sebagai material ikutan. Dalam satu bongkahan bijih
(logam) saja, jumlah material
ikutan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan emas
itu sendiri. Selain metode
tradisional, proses perolehan logam emas untuk skala yang
lebih besar sudah mulai
dikembangkan sejak tahun 1783. Pada saat itu, diketahui bahwa
emas dapat larut dalam larutan
alkali sianida. Proses tersebut kemudian dinamakan
sianidasi. Proses sianidasi
merupakan proses pelarutan emas dengan larutan natrium
sianida. Suhu yang digunakan
tidak terlalu tinggi, biasanya optimum pada suhu 85 °C.
Proses sianidasi dijelaskan oleh
Elsner sesuai reaksi dalam persamaan:
4Au + 8NaCN + O2 + 2H2O ..
4NaAu(CN)2 + 4NaOH (5.12)
Proses tersebut adalah proses
elektrokimia, di mana oksigen mengambil elektron
dari emas pada daerah katode,
sedangkan ion emas dengan cepat membentuk kompleks
aurosianida di daerah anode.
Setelah menjadi larutan kompleks, emas dapat diekstraksi
dengan beberapa metode salah
satunya adalah dengan (metode) electrowining. Dalam
metode electrowinning, larutan
kompleks dilewatkan pada sel electrowining yang terdiri
dari anode dan katode yang
terbuat atas pelat baja tahan karat. Sel electrowining dapat
dilihat pada Gambar 5.13. Emas
dengan sendirinya akan menempel pada katode
tersebut. Selanjutnya, katode
dibersihkan dan endapan emas yang ada pada katode
diambil. Endapan emas kemudian
dikeringkan. Oleh karena serbuk emas yang diperoleh
masih mengandung fluks,
selanjutnya, emas dilebur pada suhu 1.200 °C hingga
dihasilkan emas murni.
Aplikasi Emas
Beberapa
negara menggunakan emas sebagai alat transaksi ekonomi. Nilai uang
yang terbuat dari emas dilihat
dari nilai intrinsiknya. Semakin besar kandungan emas,
semakin tinggi nilai uang
tersebut. Namun demikian, penggunaan emas sebagai uang
logam mulai tergantikan ketika
pemerintah melegalkan uang kertas sebagai alat
pertukaran. Penggunaan emas yang
paling dominan saat ini adalah sebagai perhiasan.
Perhiasan dapat terbuat dari emas
murni ataupun paduannya. Emas putih merupakan
paduan emas dengan nikel atau
paladium, emas biru merupakan paduan emas dengan
besi, dan emas ungu merupakan
paduan emas dengan aluminium. Emas merupakan
material yang digunakan untuk pelapisan
sampel nonkonduktif yang akan dilakukan
pengamatan mikro menggunakan
scanning electron microscope (SEM). Emas juga
dapat digunakan pada bidang
kedokteran, di antaranya untuk gigi palsu, serta obat
untuk mengurangi sakit bagi
penderita rheumatoid arthritis dan tuberculosis.
Perak
Karekteristik Perak
Perak
merupakan logam yang berwarna putih berkilau dan cukup lunak. Logam
ini merupakan logam yang paling
putih dan dapat dipoles, serta logam ini juga telah
dikenal sejak zaman dahulu sebagai
logam yang berharga. Perak menempati urutan
pertama sebagai logam dengan
konduktivitas listrik dan konduktivitas panas tertinggi di
antara logam-logam lainnya. Namun
demikian, oleh karena harganya yang mahal,
tembaga lebih banyak digunakan
sebagai penghantar listik daripada perak. Titik lebur
perak mencapai 964 °C, sedangkan
berat jenisnya adalah 10,7 g/cm3.
Pada dasarnya
perak tahan terhadap udara dan air yang murni. Namun demikian,
pada udara bebas, warna perak
biasanya memudar karena membentuk perak sulfida.
Sulfur dapat menyerang perak
dengan cepat. Lapisan perak sulfida yang terbentuk dapat
memudarkan warna perak dan
menambah ketahanan listrik pada permukaannya, tetapi
hal tersebut tidak membuat perak
terkorosi. Salah satu upaya pencegahannya adalah
dengan melakukan pelapisan.
Teknik pelapisan yang dilakukan salah satunya dengan
menggunakan rodium dan nikel.
Proses Pengolahan Perak
Kebanyakan
bijih logam perak ditemukan bersamaan dengan bijih logam emas.
Proses sianidasi juga dapat
dilakukan pada bijih perak. Dengan demikian, produk yang
biasanya dihasilkan pada proses
electrowinning emas bukanlah 100% emas murni,
melainkan batangan emas dan perak
dengan kandungan tertentu. Apabila dalam suatu
bijih ditemukan unsur perak yang
lebih dominan daripada emas dan yang ingin
didapatkan adalah logam perak
sepenuhnya, maka poses pelarutan dengan asam nitrat
dapat memisahkan perak dengan
emas. Proses pelarutan tersebut sesuai reaksi dalam
persamaan:
3Ag + HNO3 .. 3AgNO3 + 2H2O + NO (5.12)
Reaksi ini
dilakukan pada suatu bejana baja tahan karat. Gas NO yang dihasilkan
dioksidasi untuk memperoleh HNO3,
yang dapat digunakan kembali untuk proses.
Larutan kemudian diendapkan
sebagai AgCl dengan menambahkan NaCl. Selanjutnya,
logam perak dapat diperoleh
dengan menambahkan besi. Rangkaian skematis proses
ekstraksi tersebut digambarkan
dalam Gambar 5.14
Aplikasi Perak
Oleh karena
harganya yang cukup tinggi, perak umumnya digunakan sebagai
perhiasan dan medali. Aplikasi
lain perak adalah untuk membuat campuran bersama
timah dan raksa untuk penambalan
gigi. Kekentalan campuran tersebut disesuaikan
dengan jumlah yang digunakan
untuk mengisi lubang pada gigi. Dalam beberapa menit,
campuran tersebut akan sedikit
mengeras dan dalam beberapa jam akan menjadi sangat
keras. Di bidang fotografi, perak
digunakan untuk mencetak foto dalam bentuk perak
nitrat dan perak halida. Namun
demikian, seiring dengan perkembangan zaman, perak
jarang digunakan karena dunia
fotografi sudah beralih ke model digital. Barang-barang
elektronik juga memanfaatkan
perak karena konduktivitas listriknya yang sangat tinggi,
misalnya keyboard (papan tuts)
komputer, perangkat audio yang canggih, dan papan
sirkuit cetak.
Platina
Karekteristik Platina
Platina
merupakan logam mulia yang berwarna putih keabu-abuan dan ulet.
Keuletan platina mampu melebihi
emas, perak, dan tembaga. Titik lebur platina
mencapai 1.754 °C, sedangkan
berat jenisnya mencapai 21,45 g/cm3. Konduktivitas
listriknya hanya 16% dari
konduktivitas listrik tembaga. Logam ini tidak teroksidasi
pada berbagai suhu, tetapi dapat
terkorosi oleh halogen, sianida, dan alkali kuat.
Proses
Pengolahan Platina
Platina merupakan logam yang inert. Keberadaanya di alam tidak
bersenyawa
dengan unsur lain, melainkan
murni sebagai logam platina. Namun demikian, bijih
logam platina di alam biasanya
terkontaminasi oleh material-material lain sehingga
diperlukan proses pemisahan lebih
lanjut. Banyak logam platina yang ditambang
bersamaan dengan nikel dan
tembaga karena platina sering kali menjadi material ikutan
pada bijih tembaga dan nikel.
Selama proses pemurnian nikel, logam-logam mulia,
seperti emas, perak dan platina,
serta selenium dan telurium akan mengendap ke bagian
dasar dari sel electrorefining
sebagai lumpur anoda.
Produksi
platina langsung dari bijih logam platina dapat dilakukan dengan
beberapa metode. Logam platina
biasanya memiliki berat jenis yang lebih tinggi
daripada material-material
ikutannya. Dengan demikian, platina dapat dipisahkan dari
material pengikutnya melalui
metode pengapungan biasa pada suatu kolam air. Sifat
platina yang nonmagnetik dapat
dimanfaatkan untuk memisahkannya dari pengotor-
pengotor yang magnetik, seperti
besi dan nikel, melalui metode pemisahan magnetik.
Titik lebur platina biasanya
lebih tinggi daripada material ikutannya sehingga dengan
membakar bijih logam platina,
material ikutannya akan mencair dan terpisah, sedangkan
platina tidak. Ketahanan platina
terhadap asam hidroklorat dan asam sulfat membuatnya
dapat dipisahkan dari pengotor
yang tidak tahan terhadap kedua asam tersebut. Dengan
memasukkan dan mengaduk bijih
logam platina pada campuran kedua asam tadi, logam
platina dapat diperoleh. Salah
satu atau kombinasi dari teknik-teknik pemisahan tersebut
dapat diterapkan dalam suatu
rangkaian proses produksi platina hingga didapatkan
logam platina yang benar-benar
murni.
Untuk
pemurnian bijih logam platina yang mengandung emas dan golongan
platina lainnya, penambahan aqua
regia akan lebih efektif. Dalam aqua regia, paladium,
emas, dan platina akan larut,
sedangkan osmium, iridium, rutenium, dan rodium tetap
tidak beraksi. Emas akan
diendapkan dari larutan dengan besi (III) klorida, kemudian
platina diendapkan sebagai
amonium kloroplatina dengan menambahkan amonium
klorida. Selanjutnya, amonium
kloroplatina dapat diubah menjadi logam platina dengan
pemanasan.
Aplikasi Platina
Sama seperti
logam mulia lainnya, platina juga sering digunakan orang sebagai
perhiasan. Jam tangan mewah
sering memanfaatkan platina sebagai material
pembuatnya dan diproduksi dalam
jumlah yang terbatas. Pemanfaatan platina lainnya
adalah sebagai katalis pada
reaksi kimia. Serbuk platina dapat digunakan untuk
mengatalisis reaksi pembakaran
hidrogen. Oleh karena ketahanan korosinya, platina
sering digunakan untuk pelapisan
pada komponen elektronik yang membutuhkan
kondisi operasi yang prima.
Proses pelapisan yang dapat digunakan adalah
electroplating dalam suatu wadah
yang berisi platina diklorida, PtCl2, atau platina
tetraklorida, PtC14. Selain itu,
pelapisan dapat juga dilakukan dengan metode deposit
uap dan pengecatan menggunakan
campuran serbuk platina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar